Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Intip Kisah Alumnus IPB, Sukses Jadi Wirausaha dari Budidaya Maggot

Kompas.com - 15/12/2021, 06:31 WIB
Mahar Prastiwi,
Dian Ihsan

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Setelah menyelesaikan studi dan menjadi alumnus yang sukses tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Bahkan kesuksesan alumnus suatu perguruan tinggi bisa menginspirasi para mahasiswa agar bisa meraih kesuksesan serupa setelah lulus.

Seperti capaian Aminudi, alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian.

Dia berhasil meraih penghargaan sebagai Best of The Best Wirausaha Muda Mandiri 2021.
Aminudi memilih untuk berwirausaha hingga kini ia menjadi CEO Biomagg Indonesia.

Baca juga: Webinar Unair: Kekerasan pada Perempuan Naik 800 Persen dalam 12 Tahun

Dimulai dari bisnis budidaya lele

Sebelum meraih kesuksesan, Aminudi harus melalui jalan panjang saat merintis bisnisnya. Aminudi memulai usahanya di bidang perikanan melalui budidaya ikan lele.

Setelah satu tahun melakukan budidaya, terdapat dua masalah yang dialami yakni harga tengkulak yang cenderung fluktuatif serta harga pakan yang terus mengalami peningkatan.

"Karena pakan menyumbang biaya sampai 67 persen dari total biaya operasional, maka saya mencoba mencari alternatif pakan," kata Aminudi seperti dikutip dari laman IPB, Selasa (14/12/2021).

Ia mengaku, berbekal ilmu yang ditekuni semasa kuliahnya di IPB University, ia mencoba mencari literatur tentang potensi serangga sebagai pakan alternatif potensial.

Baca juga: Erupsi Gunung Berapi Ciptakan Tanah Subur, Ini Penjelasan Pakar Unpad

Kembangkan lalat tentara hitam

Dia kemudian mengembangkan lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF) untuk menghasilkan pakan ikan.

"Seiring berjalannya waktu, pengembangan BSF ini diperuntukkan untuk mengolah sampah organik dan lahirlah Biomagg," ungkap Aminudin, yang juga peraih Juara 1 Young Entrepreneur Leadership Program Bank Indonesia 2021.

Aminudi menekankan, pentingnya pengembangan maggot. Ia menyebut, maggot dapat mengatasi masalah sampah organik di Indonesia. Pasalnya, setiap orang di Indonesia menghasilkan 300 kilogram sampah makanan setiap tahunnya. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai peringkat kedua penghasil sampah makanan di dunia.

Baca juga: Per 1 Desember 2021, PTN Tidak Boleh Angkat Dosen Tetap Non-PNS

Tidak hanya itu, pengelolaan sampah organik di Indonesia juga masih sangat kurang, padahal sampah organik adalah sampah terbanyak dalam timbunan sampah yang mencapai 60 persen.

"Dengan adanya maggot ini, kami berupaya menciptakan ekosistem baru, yaitu Green Economy demi terciptanya penerapan SDG’s di Indonesia," beber Aminudi.

Indonesia punya potensi serangga jadi protein terbarukan

Menurut Aminudi, Indonesia juga masih impor sumber bahan baku protein berupa tepung ikan mencapai 105,7 juta dolar per tahun. Padahal Indonesia sebagai negara maritim dengan garis pantai terluas di dunia.

Hal ini sangat berpengaruh terhadap harga pakan yang menyulitkan petani dan peternak. Selain itu, Indonesia juga memiliki sumber keanekaragaman serangga yang berpotensi sebagai protein terbarukan.

Baca juga: Tips Memasak Nasi Putih Rendah Gula dari Dosen IPB, Yuk Coba di Rumah

Aminudi menyampaikan beberapa kiat dalam menjalankan suatu bisnis. Pertama, perlunya keyakinan dalam menjalankan bisnis. Ketika ownernya telah yakin, maka untuk meyakinkan konsumen dan investor tidaklah sulit.

"Yang tidak kalah penting adalah konsisten dan persisten. Apapun kendala, problem, tantangan, baik yang datang dari dalam diri maupun dari lingkungan harus dihadapi bukan dihindari," ungkapnya.

Tips jalani bisnis dari alumnus IPB

Dia mengungkapkan, saat ada masalah dalam bisnis, perlu mencari solusi terbaik dan tercepat dalam menyelesaikannya. Atau menganalisis keputusan dan solusi mana yang mengurangi risiko kerugian.

Baca juga: Sejak Kapan Rempah Dipakai Rakyat Indonesia? Ini Penjelasan Pakar IPB

Ia juga menyarankan untuk berdiskusi dengan tim dalam bisnis yang dijalani. Jika ada masalah sehingga dapat diselesaikan bersama.

"Dalam menjalani bisnis perlu membuat konsep PDCAE (Plan, Do, Check, Action, Evalution) dalam mengantisipasi problem dalam berbisnis," tandas Aminudi.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com