Dekan Psikologi UGM: Warga Terdampak Erupsi Gunung Semeru Perlu Pendampingan Psikologi

Kompas.com - 08/12/2021, 17:28 WIB
Tim SAR gabungan menyusuri jalur material guguran awan panas Gunung Semeru saat operasi pencarian korban di Desa Curah Kobokan, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/12/2021). Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (06/12) pukul 20.15 WIB, setidaknya 22 orang tewas, sementara 22 orang dinyatakan hilang dan 56 lainnya mengalami luka-luka. Erupsi juga berdampak terhadap 5.205 jiwa. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGTim SAR gabungan menyusuri jalur material guguran awan panas Gunung Semeru saat operasi pencarian korban di Desa Curah Kobokan, Kecamatan Candipuro, Lumajang, Jawa Timur, Selasa (7/12/2021). Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Senin (06/12) pukul 20.15 WIB, setidaknya 22 orang tewas, sementara 22 orang dinyatakan hilang dan 56 lainnya mengalami luka-luka. Erupsi juga berdampak terhadap 5.205 jiwa.

KOMPAS.com - Bencana erupsi Gunung Semeru tak cuma meninggalkan puing-puing rumah, jembatan, fasilitas umun yang porak poranda akibat material vulkanik.

Kejadian pada Sabtu (4/12/2021) menimbulkan rasa kehilangan yang mendalam bagi ribuan warga yang terdampak dan kini tinggal di lokasi pengungsian.

Tidak hanya kehilangan harta benda dan rumah yang tertimbun oleh lahar, namun juga kehilangan anggota keluarga yang meninggal.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP) menyebutkan ada 34 korban jiwa. Rasa kehilangan dari dampak bencana tersebut akan menimbulkan trauma psikologis yang terjadi dalam waktu yang lama.

Baca juga: Pakar Unpad: Erupsi Gunung Semeru Bisa Diprediksi dari Karakternya

Oleh karena itu, diperlukan pendampingan psikologi bagi warga terdampak, di samping kepastian ketersediaan bantuan kebutuhan pokok dan lokasi pengungsian yang memadai bagi mereka untuk bisa berkumpul, saling berbagi dan saling mendukung.

“Selain sandang dan pangan, kebutuhan sekarang ini lebih difokuskan pada mereka yang keluarganya masih terpencar untuk memastikan informasi keselamatannya dan posisi keberadaan anggota keluarga, saya kira itu kebutuhan jangka pendek yang harus direspons,” kata Dekan Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Rahmat Hidayat dilansir dari laman UGM.

Bagi korban yang kehilangan tempat tinggal atau rumahnya yang masih tertimbun maka lokasi menjadi tempat pengungsian diharapkan bisa memadai bagi mereka untuk bisa istirahat dan berkumpul.

Baca juga: Webinar IPB: Seperti Ini Pertolongan Pertama pada Gigitan Ular

“Tempat pengungsian sebaiknya yang memadai untuk istirahat, tempat berkumpul keluarga bisa berbagi kesedihan dan saling mendukung. Sehingga memberikan waktu untuk mereka mengonsolidasi diri,” paparnya.

Menurut Rahmat, warga yang tinggal di sekitar Gunung Semeru dan sudah kehilangan harta, kerabat dan anggota keluarga dalam masa darurat sekarang ini menghadapi situasi yang berat. Karena harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang berbeda dengan situasi normal sebelumnya.

Meski demikian, trauma psikologi yang dialami warga akan berdampak dalam jangka panjang karena bencana erupsi merupakan tipe bencana dengan kejadian tiba-tiba yang menimbulkan dampak yang juga mendadak.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.