Kompas.com - 07/12/2021, 15:46 WIB
Ilustrasi terumbu karang. Ancaman kerusakan terumbu karang tak hanya berasal dari perubahan iklim, tetapi juga limpasan sedimen yang larut. Upaya menyelamatkan ekosistem penting di laut ini dapat dilakukan dengan reboisasi pesisir pantai. ShutterstockIlustrasi terumbu karang. Ancaman kerusakan terumbu karang tak hanya berasal dari perubahan iklim, tetapi juga limpasan sedimen yang larut. Upaya menyelamatkan ekosistem penting di laut ini dapat dilakukan dengan reboisasi pesisir pantai.
|

KOMPAS.com - Di laut, terumbu karang bermanfaat sebagai habitat serta sumber makanan berbagai jenis makhluk hidup yang ada di laut. Tetapi, bagaimana jika tidak ada terumbu karang?

Dari hasil observasi menunjukkan bahwa kondisi terumbu karang di sekitar Pulau Mandangin, Sampang Madura cukup mengkhawatirkan. Yakni hanya tersisa maksimal tujuh persen karang hidup.

Terdapat indikasi kuat bahwa kerusakan ini terjadi karena faktor antropogenik, bukan secara alamiah.

Baca juga: Alumnus IPB Bagikan Cerita Saat Magang Hortikultura di Amerika dan Belanda

Terkait hal itu, awal Desember ini Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut (PKSPL) IPB University, Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) dan masyarakat Pulau Mandangin menginisiasi rehabilitasi ekosistem terumbu karang.

Adapun kegiatan ini dimulai dengan peletakan perdana module transplant di sekitar Pantai Candin.

Kerusakan terumbu karang sejak 1989

Menurut Muis selaku Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), kerusakan terumbu karang di pulau ini terjadi sejak 1989. Dampak adanya pengambilan karang secara besar-besaran untuk kepentingan komersial.

Dengan sengaja masyarakat mengambil karang-karang hidup dan dijual untuk menjadi hiasan di akuarium. Praktik ini berakhir sekitar tahun 2000-an ketika ada yang ditangkap pihak keamanan.

"Namun praktik pengambilan karang tetap berjalan tapi untuk keperluan konstruksi bangunan. Yang ada saat ini adalah sisanya saja," ujarnya seperti dikutip dari laman IPB, Selasa (7/12/2021).

Untuk itulah Husky-CNOOC Madura Limited (HCML) mencari bentuk alternatif sosial ekonomi yang dapat mengurangi laju kerusakan lingkungan di Pulau Mandangin.

HCML menggandeng PKSPL IPB University sebagai perumus konsep dan menjadi pendamping masyarakat. Selain itu, HCML juga mengijinkan wilayah konsesi darat mereka dijadikan spot destinasi wisata yang akan dikelola desa.

Baca juga: Cop Busi Daur Ulang Plastik Inovasi Mahasiswa UNY Bikin Bertenaga Tapi Irit

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.