Kompas.com - 07/12/2021, 05:44 WIB
Kondisi rumah warga di Dusun Sumbersari Umbulan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Senin (6/12/2021). Kampung itu luluh lantak akibat awan panas dari Gunung Semeru yang mengalami erupsi pada Sabtu (4/12/2021) lalu. KOMPAS.com/ANDI HARTIKKondisi rumah warga di Dusun Sumbersari Umbulan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Senin (6/12/2021). Kampung itu luluh lantak akibat awan panas dari Gunung Semeru yang mengalami erupsi pada Sabtu (4/12/2021) lalu.
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Pasca-erupsi Gunung Semeru, banyak rumah warga yang tertimbun material awan panas guguran Gunung Semeru.

Material abu vulkanik ini perlu diwaspadai karena bisa berbahaya bagi pernapasan siapa saja yang menghirupnya.

Meski dalam kondisi tanggap darurat, masyarakat terdampak erupsi Gunung Semeru tetap harus mengutamakan kesehatannya. Apalagi pasca-erupsi Gunung Semeru masih banyak timbunan abu vulkanik di rumah warga yang terdampak.

Menurut Ahli Vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman, abu vulkanik kaya akan semen dan akan mudah menempel pada media yang basah.

Baca juga: 15 Jurusan Sepi Peminat di Unpad, Jadi Referensi Daftar SNMPTN 2022

Abu vulkanik bisa menempel di paru-paru

Dia menerangkan, jika abu vulkanik terhirup langsung oleh manusia, akan menempel dan tercetak di paru-paru yang basah dan kandungan oksigennya melimpah.

"Jika abu vulkanik terhirup dapat menyebabkan permasalahan pernafasan akut," kata Mirzam Abdurrachman seperti dikutip dari laman ITB, Senin (5/12/2021).

Mirzam Abdurrachman mengimbau kepada masyarakat yang terdampak material gunung Gunung Semeru untuk selalu menggunakan masker atau kain yang sudah dibasahi air. 

Kain yang sudah dibasahi tersebut bisa digunakan sebagai penutup hidung untuk mencegah efek dari abu vulkanik.

Mirzam mengungkapkan, berkaca dari kejadian erupsi gunung api yang pernah terjadi di Indonesia sebelumnya, sebagian besar masyarakat lebih percaya kepada juru kunci gunung api.

Baca juga: Guru Besar Unesa: Penyandang Disabilitas Istimewa dan Punya Potensi

Masyarakat bisa melakukan self mitigation

Mirzam mengungkapkan, padahal tidak semua masyarakat yang tinggal di lereng gunung api terjangkau dengan internet dan bisa menerjemahkan hasil monitoring aktivitas gunung api dari para ahli.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.