Kompas.com - 06/12/2021, 17:53 WIB
Dampak kerusakan rumah warga akibat erupsi Gunung Semeru yang meluncurkan awan panas di Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, Senin (6/12/2021). Gunung Semeru yang erupsi pada Sabtu (4/12/2021), menyebabkan sedikitnya 5.205 warga terdampak, 27 orang hilang, 15 orang meninggal dunia, dan ribuan rumah rusak. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGDampak kerusakan rumah warga akibat erupsi Gunung Semeru yang meluncurkan awan panas di Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, Senin (6/12/2021). Gunung Semeru yang erupsi pada Sabtu (4/12/2021), menyebabkan sedikitnya 5.205 warga terdampak, 27 orang hilang, 15 orang meninggal dunia, dan ribuan rumah rusak.

KOMPAS.com - Terjadinya erupsi Gunung Semeru bisa menimbulkan bahaya tidak langsung. Hal ini diingatkan oleh Pakar Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mengingatkan adanya bahaya sekunder atau bahaya tidak langsung yang diakibatkan dari erupsi Gunung Semeru.

Selain erupsi guguran awan panas yang terjadi pada tanggal 4 Desember lalu, terdapat potensi bahaya sekunder seperti banjir bandang yang membawa material vulkanik di daerah hulu.

“Erupsi selesai, potensi ancaman bencana masih ada. Bulan Desember, Januari, dan Februari kita perlu memperhatikan potensi aliran lahar dan juga erupsi susulan,” ucap Dosen Fakultas Geografi UGM, Danang Sri Hadmoko dalam konferensi pers di Auditorium FMIPA UGM, dilansir dari laman UGM.

Baca juga: Ahli Vulkanologi ITB: 3 Hal yang Membuat Erupsi Gunung Semeru

Ia menerangkan, fenomena La Nina memunculkan potensi hujan tinggi sehingga masyarakat yang berada di area sungai yang berhulu di Gunung api Semeru perlu waspada.

Masyarakat juga harus menghindari aktivitas dalam radius bahaya yang sudah ditetapkan oleh otoritas setempat.

“Beberapa sungai yang berhulu di Semeru itu perlu diwaspadai, supaya ketika terjadi aliran lahar di bagian tengah dan hilir yang banyak pemukiman bisa terselamatkan,” ucapnya.

Menurutnya, terdapat pula potensi material yang masih panas sehingga proses evakuasi perlu dilakukan dengan hati-hati dan melibatkan pihak-pihak yang memahami kondisi gunung api.

Warga di sekitar area erupsi dianjurkan untuk selalu menggunakan masker dan kacamata pelindung untuk menghindari bahaya kesehatan akibat abu vulkanik yang mempunyai kandungan silika dan berukuran mikro.

Pakar Geofisika UGM, Wahyudi, M.S. menerangkan bahwa sejak tahun 2012 sebenarnya Gunung Semeru telah dinyatakan memiliki status Level 2 atau Waspada.

Baca juga: Webinar IPB: Seperti Ini Pertolongan Pertama pada Gigitan Ular

Kemudian pada September 2020 mulai teramati aktivitas berupa kepulan asap putih dan abu-abu setinggi 200-700 m di puncak Semeru.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.