Kompas.com - 06/12/2021, 13:54 WIB
Ilustrasi hukum freepik.com/ kjpargeterIlustrasi hukum
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Sebagai negara hukum, Indonesia berkomitmen menegakkan kebenaran dan keadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Namun dalam perjalanannya, tetap ada oknum-oknum nakal yang menyalahi aturan dalam mengemban tugas. Masih ada oknum aparat yang seharusnya menegakkan hukum justru 'nakal' dengan menerima suap untuk suatu kasus yang ditangani.

Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Prof. Arief Hidayat mewanti-wanti mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta untuk tidak menjadikan hukum sebagai komoditas, apalagi sampai memperjualbelikan hukum.

"Saya berpesan pada mahasiswa hukum jangan pernah jadikan hukum sebagai komoditi saudara-saudara apabila kelak nanti sudah bekerja sebagai advokat, notaris, dan lainnya. Praktik hukum jangan diperjualbelikan!" ungkap Prof. Arief seperti dikutip dari laman UNS, Senin (6/12/2021).

Baca juga: Pejuang SNMPTN 2022, Ini Jurusan dengan Daya Tampung Terbanyak di UGM

Mahasiswa FH UNS jangan memperjualbelikan hukum

Pesan ini disampaikan Prof. Arief Hidayat saat memberi kuliah umum bertajuk 'Peran dan Tantangan MK dalam Mewujudkan Hukum dan Politik Demokratis'.

Prof. Arief menekankan, ajakan untuk tidak memperjualbelikan hukum ini dilandasi bahwa hukum yang dijalankan di Indonesia bersumber pada Ketuhanan Yang Maha Esa.

Hal ini juga sesuai dengan teori teokrasi yang dianut Indonesia. Ada pun, teori yang dipercayai oleh Thomas Aquino dan Agustinus ini melandaskan sistem hukumnya pada kedaulatan Tuhan.

"Ini artinya, secara fundamental negara teokrasi meyakini negaranya dapat berdiri karena Tuhan dan oleh karenanya pemerintahan yang dijalankan dan hukum yang dibuat berpegang teguh pada Tuhan," ungkap Prof. Arief.

Baca juga: Ikut SNMPTN 2022? Ini Jurusan dengan Daya Tampung Terbanyak di Unnes

Indonesia menganut teori teokrasi

Menurut Prof. Arief, salah satu bukti Indonesia menganut teori teokrasi dapat dilihat pada Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 yang tertulis demikian 'Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa'.

Tidak hanya itu, pengakuan terhadap Tuhan juga tertulis di setiap pembukaan UU maupun putusan MK yang dibacakan di persidangan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.