Kompas.com - 26/11/2021, 08:00 WIB
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Hari Guru Nasional 2021 diperingati tiap tanggal 25 November. Melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan tanggal 25 November selain sebagai HUT PGRI juga sebagai Hari Guru Nasional.

Penetapan Hari Guru Nasional ini juga sebagai penghormatan kepada para guru yang sudah berperan memajukan sumber daya manusia (SDM) di Indonesia.

Sebelum pandemi Covid-19 ada, guru sudah memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter dan membekali ilmu para siswa.

Namun dengan adanya pandemi Covid-19 dan pembelajaran tatap muka ditiadakan, hal ini justru menjadi tantangan tersendiri bagi para guru.

Baca juga: Mahasiswa, Ini 3 Tips Berorganisasi di Kampus

Peran utama guru tetap sama

Pengamat kebijakan pendidikan Universitas Gadjah Mada (UGM) Agustinus Subarsono menerangkan, sebelum dan sesudah pandemi Covid-19 peran utama guru tetap sama yaitu mendidik karakter dan transfer ilmu pengetahuan pada anak didik.

Menurutnya, mendidik karakter dengan harapan anak didik bisa menjadi jujur, percaya diri, memiliki komitmen dan lain-lain. Sedangkan melakukan transfer ilmu pengetahuan agar anak didik memiliki tingkat kognitif yang lebih tinggi.

"Di dalam masa pandemi Covid-19, ada satu peran lagi yang dibebankan guru yaitu soal mengubah pola perilaku siswa. Bagaimana perilaku siswa itu berubah dari sebelum masa Covid-19 dan sesudah masa Covid-19," terang Agustinus Subarsono seperti dikutip dari laman UGM, Kamis (25/11/2021).

Dia menjelaskan, siswa didorong untuk melakukan social distancing di masa pandemi Covid-19. Selain itu siswa diajar untuk sering mencuci tangan, tidak melakukan interaksi secara langsung dan berkelompok.

Baca juga: Intip Kisah Mahasiswa Unpad, Jadi Dalang Muda dengan Segudang Prestasi

Pembentukan karakter idealnya dilakukan dengan tatap muka

Menurut Subarsono, transfer ilmu pengetahuan kendalanya tidak terlalu besar dan tidak serumit tugas guru dalam membentuk karakter. Karena untuk pendidikan karakter idealnya di bentuk melalui pertemuan tatap muka.

Namun demikian, dengan pembelajaran daring pembentukan karakter tetap bisa dilakukan.

Subarsono mengungkapkan, guru tetap bisa mengajarkan tepat waktu pada siswa, memberikan tugas dengan memberi sanksi bagi mereka yang tidak disiplin dan tidak mengumpulkan tugas dan lain-lain.

"Artinya dengan berbagai inovasi yang dilakukan guru tetap bisa dilakukan. Meski tidak seoptimal jika tatap muka," terang dosen Departeman Manajemen dan Kebijakan Publik, Fisipol UGM ini.

Semakin majunya perkembangan zaman, di dalam masa pandemi Covid-19, guru bisa memanfaatkan semua platform digital, seperti zoom dan lain-lain. Guru tetap bisa mengajar dan memberi tugas secara kelompok.

"Bisa juga diajarkan berbagai bentuk permainan-permainan yang berisi soal kejujuran, integritas, kerja sama dan lain-lain. Dari metode semacam itu bisa terlihat siswa yang aktif dan dominan menguasai permainan. Akan terlihat pula bagaimana mereka bekerja sama, mampu menerima ide orang lain dan seterusnya," beber Subarsono.

Baca juga: Agar Makin Pede Setelah Lulus, Undip Beri Pelatihan Soft Skills

Dia menekankan, inovasi juga bisa dilakukan guru dalam pembelajaran membentuk karakter dengan memutar short video tentang tokoh yang menginspirasi. 

Agar pencapaian pendidikan karakter optimal, lanjut Subarsono, semestinya dalam pembentukannya tidak hanya dibebankan pada guru dan sekolah semata. 

Namun, harus melibatkan anak dan orangtua. Karena keberadaan anak saat ini lebih lama bersama orang tua.

Sehingga orangtua memiliki tanggung jawab lebih besar terhadap pembentukan karakter sejak anak usia dini.

Bersama orangtua bisa diajarkan kejujuran, kedisiplinan, empati, toleransi dan kerja sama diantara anggota keluarga.

"Semua bisa dibangunan dalam sebuah keluarga. Misalkan memberikan tugas anak untuk menghidupkan lampu tiap sore, anak yang lain diberi tugas menyapu halaman, menyapu dalam rumah dan sebagainya. Ini upaya bagaimana menyiapkan anak memiliki tanggung jawab dalam rumah dan orang tua bisa melakukan itu," terangnya.

Baca juga: Intip Kisah Mahasiswa Unpad, Jadi Dalang Muda dengan Segudang Prestasi

Subarsono menekankan, cara-cara semacam itu adalah langkah nyata melibatkan orangtua dalam pendidikan.

Sebab, di saat sekolah tatap muka sebelum pandemi bagi guru cukup memberikan pekerjaan rumah, dan pekerjaan-pekerjaan rumah yang dibebankan pada siswa harus mendapat tanda tangan dari orang tua.

“Saat sekarang pendidikan lebih banyak dengan daring karena masing-masing orang tua memiliki waktu yang terbatas, kontrol terhadap pekerjaan anak (siswa) menjadi sulit saat ini," tutupnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.