Agnes Setyowati
Akademisi

Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya Universitas Pakuan, Bogor, Jawa Barat. Meraih gelar doktor Ilmu Susastra dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Aktif sebagai tim redaksi Jurnal Wahana FISIB Universitas Pakuan, Ketua Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat  Bogor, dan anggota Manassa (Masyarakat Pernaskahan Nusantara). Meminati penelitian di bidang representasi identitas dan kajian budaya.

Mari Perangi Tiga "Dosa Besar" dalam Sistem Pendidikan Kita

Kompas.com - 22/11/2021, 09:13 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

KOMPAS.com - Pendidikan adalah salah satu tolak ukur maju atau tidaknya suatu negara karena pendidikan yang baik dan tepat akan berdampak positif bagi perekonomian suatu negara serta berpotensi menghilangkan kemiskinan, keterbelakangan, dan kejahatan sosial.

Merujuk pada UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, selain meningkatkan potensi akademik individu yang mampu bersaing di lingkup global, pendidikan nasional kita juga berfokus pada pembangunan sikap, karakter, serta aplikasi dari nilai-nilai ideologis-filosofis bangsa.

Namun faktanya saat ini, dunia pendidikan Indonesia masih sarat akan permasalahan ‘akut’, Nadiem Makarim selaku Mendikbud Ristek bahkan menyebutkan bahwa terdapat tiga 'dosa besar' di dunia pendidikan kita, antara lain intoleransi, perundungan, dan kekerasan seksual.

Intoleransi mengancam kebhinekaan

Masalah intoleransi di dunia pendidikan kita bukanlah kasus baru, melainkan sudah terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu.

Intoleransi terjadi ketika adanya minimnya rasa hormat terhadap kelompok lain yang dianggap berbeda selain praktik atau keyakinan sendiri (Alamsyah M Djafar, 2018).

Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, menyatakan bahwa diskriminasi berbasis SARA masih rentan terjadi di sekolah-sekolah di berbagai wilayah di Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Beberapa sekolah negeri di beberapa wilayah bahkan memberlakukan pelarangan baik penggunaan maupun kewajiban menggunakan jilbab.

Tidak hanya itu, di beberapa kasus juga ditemukan bahwa guru melakukan intervensi pada pemilihan ketua OSIS dengan mengajak siswa untuk tidak memilih kandidat yang tidak seiman.

Baca juga: Mendikbud: Masih Ada 3 Dosa Besar dalam Dunia Pendidikan Indonesia

Direktur Eksekutif Setara Institute, Ismail Hasani, mengatakan bahwa intoleransi juga terjadi di level perguruan tinggi. Survei Setara Institute (2019) menemukan wacana dan gerakan keagamaan di 10 PTN yang berpotensi mengancam ideologi negara Pancasila.

Menurutnya tren intoleransi dan konservatisme di lingkungan pendidikan kita terus mengalami peningkatan di 5-10 tahun terakhir, dan yang paling menonjol adalah regulasi busana siswa yang diskriminatif serta intervensi guru terhadap pemilihan OSIS terkait calon beragama minoritas.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.