Kompas.com - 14/11/2021, 07:32 WIB
Ilustrasi stunting pada anak. ShutterstockIlustrasi stunting pada anak.
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy meminta agar Universitas Jember (Unej) turut membantu pemerintah menangani masalah stunting atau anak kerdil.

Pernyataan ini disampaikan Muhadjir Effendy saat memberikan orasi secara daring dalam peringatan Dies Natalis ke-57 Universitas Jember.

Permintaan ini salah satunya berdasarkan pada keberhasilan Universitas Jember melakukan program Kuliah kerja Nyata (KKN) tematik penanganan stunting sejak tahun 2018.

Baca juga: Pakar UGM Bagikan 4 Cara Menjaga Jantung Tetap Sehat

Menko PMK dorong Unej turut tangani stunting

Keberhasilan KKN tematik penanganan stunting ini telah dipresentasikan Rektor Universitas Jember pada ajang Rapat Koordinasi Nasional Percepatan Penurunan Stunting pada 23 dan 24 Agustus 2021 silam.

"Pemerintah menargetkan angka stunting yang saat ini masih di angka 27 persen, pada tahun 2024 nanti akan turun menjadi di bawah angka 14 persen. Sebuah target yang berat tapi bukan misi yang tidak bisa dicapai," kata Muhadjir Effendy seperti dikutip dari laman Unej, Sabtu (13/11/2021) .

Menurut Muhadjir Effendy, target ini bisa dicapai tentunya dengan gotong royong dan kerjasama semua pihak termasuk di dalamnya dunia perguruan tinggi.

Salah satunya Universitas Jember yang sudah berpengalaman melaksanakan KKN tematik penanganan stunting.

Penanganan stunting mempengaruhi masa depan bangsa

Menurut Menko PMK, penanganan stunting pada 1.000 hari kehidupan pertama seorang anak harus mendapatkan perhatian serius. Pasalnya hal ini menentukan nasib masa depannya dan masa depan bangsa juga.

Baca juga: Beri Dukungan Penuh, Menteri Agama: Permendikbud PPKS Sangat Resolutif

Dari laporan Bank Dunia tahun 2020 lalu, 54 persen angkatan kerja Indonesia ternyata pernah mengalami stunting.

"Kondisi ini membuat angkatan tenaga kerja kita sulit bersaing di pasar kerja. Jika kita gagal mengatasi stunting maka bonus demografi yang semula diproyeksikan akan dinikmati pada tahun 2045 akan gagal dan Indonesia akan masuk ke dalam middle income trap," tegas Menko PMK.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.