Kompas.com - 07/11/2021, 07:01 WIB
ILustrasi udara KOMPAS.com/ANGGARA WIKAN PRASETYAILustrasi udara
|

KOMPAS.com - Adanya pandemi Covid-19 membawa banyak perubahan pada kehidupan manusia. Semua orang dianjurkan mengurangi kegiatan di luar rumah dan menghindari kerumunan untuk mencegah penularan Covid-19.

Bahkan rutinitas seperti bekerja di kantor pun mengalami perubahan dan diganti dengan Work From Home (WFH). Sama halnya dengan kegiatan sekolah dan kuliah pun diganti dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Saat kasus Covid-19 melonjak drastis beberapa waktu lalu, pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan perintah dalam Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Baca juga: Bank Mandiri Buka Lowongan Kerja bagi Lulusan S1-S2, Buruan Daftar

Teliti kualitas udara di pulau Jawa selama pandemi

Tanpa disadari, kebijakan ini juga berdampak pada kualitas udara pada suatu daerah. Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Moh Faisal meneliti kualitas udara di Pulau Jawa sejak Januari 2020 hingga Juli 2021.

Mahasiswa Departemen Teknik Geomatika ITS ini terkejut dengan hasil temuan dari penelitiannya. Pasalnya, kualitas udara di Indonesia fluktuatif dan tidak terus menurun di masa pandemi Covid-19 saat mobilitas warga dibatasi.

"Pada penelitian ini saya menggunakan indikator gas nitrogen dioksida (NO2) dan karbon monoksida (CO) sebagai hasil pembakaran kendaraan bermotor serta pemantauan terhadap ozon (O3)," kata Faisal seperti dikutip dari laman ITS, Sabtu (6/11/2021).

Mobilitas masyarakat masih tinggi

Grafik yang didapatkan menunjukan mobilitas masyarakat masih tinggi pada periode tertentu, misalnya pada masa liburan.

Hal tersebut membuat Faisal menyimpulkan, penerapan kebijakan pemerintah pada masa pandemi Covid-19 belum maksimal.

Baca juga: Siswa, Ketahui Ragam Tarian dari Jawa Barat dan Sejarah Singkatnya

Mahasiswa angkatan 2018 ini mendapatkan data berdasarkan hasil penginderaan jauh satelit Sentinel 5P milik Corpenicus. Selanjutnya, pengolahan data dilakukan dengan menggunakan Google Earth Engine.

"Cara ini dapat mengolah citra satelit secara daring dengan menggunakan bahasa pemrograman JavaScript dan Phyton," terang Faisal.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.