Erwin Hutapea
ASISTEN EDITOR

Penyelaras Bahasa dan penulis di Kompas.com, pemerhati kebahasaan, dan pengelola media sosial Bicara Bahasa

Salah Kaprah Bahasa, antara Ketidaktahuan dan Kemalasan (2)

Kompas.com - 07/10/2021, 10:22 WIB
Larasati Dajar (24), Duta Bahasa dari Gorontalo mengampanyekan pentingnya penggunaan Bahasa Indonesia yang telah berhasil menyatukan berbagai keragaman budaya Indonesia. KOMPAS.COM/ROSYID AZHARLarasati Dajar (24), Duta Bahasa dari Gorontalo mengampanyekan pentingnya penggunaan Bahasa Indonesia yang telah berhasil menyatukan berbagai keragaman budaya Indonesia.

PENGGUNAAN bahasa Indonesia yang baik dan benar belum tentu mendapat respons positif dari orang-orang di sekitar kita. Sering kali ketika kita mengucapkan suatu kata dengan benar malah dinilai salah atau janggal karena dianggap tidak lazim.

Itulah salah satu percikan masalah perkembangan bahasa saat ini. Harus diakui bahwa perubahan bahasa itu dinamis sesuai kemajuan zaman, apalagi dengan kehadiran teknologi informasi dan media sosial yang begitu berpengaruh.

Banyak istilah baru dan kata serapan dari bahasa asing dan bahasa daerah bermunculan, lalu menjelma jadi bahasa sehari-hari.

Pemerhati bahasa NW Sartini dalam bukunya yang bertajuk Revitalisasi Bahasa Indonesia dalam Konteks Kebahasaan (2014) mengatakan, penggunaan bahasa Inggris secara berlebihan atau salah kaprah menjadi salah satu penyebab kekacauan bahasa dalam tingkat kosakata, semantik, dan struktur.

Menurut Sartini, masih ada penyebab lain, di antaranya pelanggaran kaidah-kaidah bahasa Indonesia, baik di media massa maupun di tempat-tempat umum; dan masuknya struktur kalimat bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan bahasa Indonesia yang benar.

Baca juga: Salah Kaprah Bahasa, antara Ketidaktahuan dan Kemalasan (1)

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Meski demikian, banyak orang yang berpendapat bahwa salah mengucapkan diksi atau pilihan kata itu lumrah dan tidak perlu dibikin pusing, yang penting bisa dimengerti dan komunikasi lancar.

Hal itulah yang membuat orang malas dan tidak berniat untuk mencari tahu di kamus atau sumber resmi tentang arti dari suatu kata, terutama bagi orang yang sudah melek pendidikan. Dia terus berpendirian bahwa pemahamannya adalah benar sesuai pemikiran dan pengalaman hidup sehari-hari.

Lain lagi dengan orang yang latar belakang pendidikan formalnya kurang sehingga tidak mempelajari bahasa Indonesia secara benar. Percakapannya setiap hari berdasarkan pengertian apa adanya sehingga kadang kala kata yang disampaikan belum tentu benar sesuai konteksnya.

Terkait hal itu, artikel sebelum ini sudah membahas tentang beberapa contoh kosakata yang salah kaprah. Berikut ini sejumlah contoh lainnya yang acap kali kita temui:

1. Pewaris adalah orang yang mewariskan atau memberi warisan, sedangkan ahli waris yaitu orang yang berhak menerima warisan. Penggunaan kata-kata tersebut kerap terbolak-balik.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.