Kompas.com - 01/10/2021, 12:34 WIB
Tasya Kamila (atas) dan Astrid Tiar (bawah) dalam acara Bincang Inspiratif Tanoto Foundation bertema ?The Untold Story of Breastfeeding? yang tayang secara langsung melalui live Instagram @tanotoeducation, Rabu (29/9/2021). DOK. Instagram Tanoto FoundationTasya Kamila (atas) dan Astrid Tiar (bawah) dalam acara Bincang Inspiratif Tanoto Foundation bertema ?The Untold Story of Breastfeeding? yang tayang secara langsung melalui live Instagram @tanotoeducation, Rabu (29/9/2021).

KOMPAS.com – Usai bertaruh nyawa saat melahirkan anak, perjuangan seorang ibu memasuki babak baru dengan mulai menyusui buah hatinya.

Proses menyusui bayi tidak bisa dibilang enteng, karena para ibu harus memastikan air susu ibu (ASI) keluar secara lancar dan memiliki nutrisi baik. Mereka juga diharuskan menjaga kondisi fisik dan mental agar bayi merasa nyaman saat menyusu.

Selain itu, beberapa ibu juga harus beradaptasi dengan bentuk tubuh yang berubah drastis usai melahirkan. Menerima bentuk badan pascamelahirkan dan beradaptasi dengannya bukanlah hal mudah.

Kondisi tersebut dialami aktris sekaligus presenter Astrid Tiar Josephine Panjaitan atau yang akrab disapa Astrid Tiar.

Baca juga: 5 Fakta Penting soal Menyusui, Ibu Baru Perlu Tahu

“Dulu kan aku (pascamelahirkan anak pertama) gendut banget, ya, 104 kilogram (kg). Kadang sebenarnya orang yang kayak aku, sudah badannya 104 kg, pada saat membawa bayi mau diimunisasi (ada yang bertanya) ibu hamil lagi? (aku menjawab) bukan, saya 104 kg,” kata Astrid.

Hal itu disampaikan Astrid saat menjadi bintang tamu dalam acara Bincang Inspiratif Tanoto Foundation bertema “The Untold Story of Breastfeeding” yang tayang secara langsung melalui live Instagram @tanotoeducation, Rabu (29/9/2021).

Tantangan ibu menyusui

Astrid menceritakan bahwa pengalaman menyusui anak pertama menjadi tantangan yang sangat berat. Pasalnya, selain beradaptasi dengan bentuk tubuh yang berubah, Astrid juga harus dihadapkan pada masalah ASI yang tidak keluar.

“Kalau Annabel (anak pertama) itu sayang sekali, dia tidak berkesempatan untuk mendapatkan ASI,” kata Astrid.

Baca juga: 3 Kategori Stimulasi untuk Bantu Tumbuh Kembang Anak

Agar ASI bisa keluar, ia mengaku sempat mengikuti sekolah laktasi selama lebih dari tiga bulan, mengikuti komunitas, mengatur pola makan, dan lain-lain.

“Sampai stres. Sampai ada fase di mana aku stres, nangis melulu. Karena aku merasa aku ibu yang tidak berharga, anak aku minumnya susu sapi, bukan susu ibu,” ujar Astrid, mengenang kenangan pahitnya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.