Kompas.com - 27/09/2021, 09:00 WIB
SEAQIL melaksanakan 12th GBM secara luring dan daring pada 22?23 September 2021 dan dihadiri 11 perwakilan dari Kementerian Pendidikan di Asia Tenggara; Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Timor-Leste, dan Vietnam. DOK. SEAQILSEAQIL melaksanakan 12th GBM secara luring dan daring pada 22?23 September 2021 dan dihadiri 11 perwakilan dari Kementerian Pendidikan di Asia Tenggara; Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Timor-Leste, dan Vietnam.

KOMPAS.com - Dalam Pertemuan Dewan Pembina (Governing Board Meeting/GBM) yang dilaksanakan SEAMEO Regional Centre termasuk SEAMEO QITEP in Language, sebelas perwakilan Kementerian Pendidikan Se-Asia Tenggara sepakat memajukan literasi dan bahasa Asia Tenggara.

SEAQIL melaksanakan 12th GBM secara luring dan daring pada 22—23 September 2021 dan dihadiri 11 perwakilan dari Kementerian Pendidikan di Asia Tenggara; Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Timor-Leste, dan Vietnam.

Program yang menjadi bahasan, di antaranya penelitian terkait kebijakan bahasa dan pendidikan bahasa, serta Klub Literasi Sekolah Asia Tenggara.

Merujuk pada keberagaman bahasa dan budaya di Asia Tenggara serta adanya dorongan globalisasi, Kemendikbud Ristek melalui Organisasi Menteri-Menteri Pendidikan Se-Asia Tenggara (SEAMEO), berpartisipasi dalam pemajuan pendidikan bahasa di Asia Tenggara.

Upaya yang dilakukan diantaranya dengan mengajukan program berbasis penelitia dan pengembangan kompetensi terkait kebahasaan melalui forum yang melibatkan sebelas perwakilan Kementerian Pendidikan di Asia Tenggara.

Baca juga: Lewat Webinar #MakinCakapDigital, Kemenkominfo Ajak Masyarakat Percepat Penyebaran Literasi Digital

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menguasai bahasa nasional negara tetangga

Plt. Kepala Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat, Kemendikbud Ristek, Anang Ristanto mengungkapkan terlepas dari Covid-19, sistem pendidikan nasional di setiap negara anggota SEAMEO perlu menyesuaikan diri untuk memenuhi tuntutan global yang terus berubah.

Menurut Anang, kebijakan pendidikan diperlukan untuk menjawab kebutuhan praktis pembangunan bangsa dan globalisasi.

Terkait kebutuhan globalisasi, selain teknologi, Anang mengungkapkan bahwa negara anggota SEAMEO perlu meningkatkan pengakuan keterkaitan antara bahasa dan pembangunan.

“Komunitas ASEAN yang lebih kuat dapat dicapai melalui penguasaan bahasa yang baik dan pemahaman nilai-nilai moral budaya-budaya besar di Asia Tenggara," tegas Anang.

Oleh karena itu, komunitas ASEAN dapat memupuk identitas dan kekuatan kolektifnya untuk terlibat dengan dunia, menanggapi perkembangan baru, dan menangkap peluang baru.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.