Kompas.com - 20/08/2021, 18:23 WIB
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim  memaparkan program bantuan lanjutan kuota data internet untuk bulan September, Oktober, dan November 2021, dalam konferensi pers virtual yang digelar pada Rabu (4/8/2021). KOMPAS.com/ KEVIN RIZKY PRATAMAMenteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim memaparkan program bantuan lanjutan kuota data internet untuk bulan September, Oktober, dan November 2021, dalam konferensi pers virtual yang digelar pada Rabu (4/8/2021).

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengungkap, saat ini ada dua fokus utama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).

Ia mengatakan, upaya pertama adalah segera mengembalikan anak untuk kembali belajar secara tatap muka dengan aman untuk mengurangi learning loss dan dampak pemanen pada psikologi anak.

“Upaya terpenting sekarang adalah mengembalikan anak ke sekolah untuk meminimalisir learning loss dan dampak psikologis anak yang bisa berdampak permanen. Harus segera kita lakukan seaman mungkin dan secepat mungkin, dan dengan mengedepankan kehati-hatian,” jelas Mendikbudristek dalam diskusi daring Indonesia Tangguh dengan SDM Unggul, seperti dirangkum dari laman Kemendikbud Ristek, Jumat (20/8/2021).

Baca juga: Kemendikbud Ristek: Sekolah di Wilayah PPKM Level 1-3 Boleh Tatap Muka Terbatas

Nadiem menjelaskan, tidak dapat dipungkiri bahwa pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang berkepanjangan berdampak pada menurunnya motivasi belajar dan kondisi psikologis anak.

Ancaman learning loss serta kesepian dan kekerasan pada anak akibat pandemi, jelas dia, terjadi di seluruh dunia. Hal ini menjadi alasan mendasar untuk segera menyelenggarakan kegiatan pembelajaran tatap muka secara terbatas pada wilayah yang diperbolehkan.

Sejak tahun lalu, Kemendikbud Ristek juga telah mengeluarkan kurikulum darurat yang kini semakin banyak digunakan sekolah-sekolah. Menurut Nadiem, kurikulum darurat ini merupakan adaptasi dari kurikulum yang ada yang berfokus pada pencapaian kompetensi dasar.

Penyederhanaan kurikulum ini juga merupakan program yang direncanakan kementerian, yang dipercepat dengan terjadinya pandemi.

Baca juga: Mendikbud Nadiem: Ada 3 Dosa di Sekolah yang Tidak Boleh Ditoleransi

Dengan penyederhanaan capaian pembelajaran, diharapkan guru-guru tidak lagi kejar tayang semua materi dan informasi, tetapi lebih fokus meningkatkan kompetensi yang paling mendasar.

“Yang terpenting dalam mengejar ketertinggalan ini adalah kebebasan dalam pelaksanaan kurikulum bagi para guru. Karena yang terpenting bukan keseragaman, tetapi optimalisasi agar semua anak belajar, di kecepatannya sendiri-sendiri,” tambah Nadiem.

Pandemi juga telah mempercepat adaptasi terhadap sistem dan teknologi digital karena sebagian besar pembelajaran dilakukan secara jarak jauh sehingga para guru dan murid terpacu untuk menguasai teknologi.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.