Kompas.com - 18/08/2021, 16:02 WIB
Ilustrasi gula Ilustrasi gula

KOMPAS.com - Kekayaan laut Indonesia, membuat negara ini menjadi negara yang memproduksi rumput laut cottonii terbesar di dunia.

Selain rumput laut cottoni, Indonesia ternyata juga menjadi pengimpor terbesar produk olahan rumput laut terutama produk karaginan. Seharusnya, Indonesia justru menjadi leader untuk industri rumput laut dan turunannya terutama untuk jenis cottonii.

Di  Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Institut Pertanian Bogor (IPB) University, Prof Uju mengatakan limbah padat karaginan (pengolahan refined carrageen) dapat diolah menjadi biosugar dan bioethanol.

Menurutnya, limbah padat karaginan ini memiliki kadar lignin yang lebih rendah serta kadar selulosa 34 persen.

Baca juga: Peneliti IPB: Jahe, Kunyit, dan Temulawak Bisa Obati 30 Jenis Penyakit

Kadar ini mendekati kadar biomassa tanaman darat sehingga bisa dikonversi atau diubah menjadi biosugar (glukosa) dan bioethanol.

“Kami memanfaatkan teknologi pretreatment ionic liquid [Hpy][Cl] untuk mengkonversi selulosa limbah padat karaginan menjadi gula yang cepat, efisien dan lebih ramah lingkungan," ujarnya dilansir dari laman IPB University

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia mengatakan, pengolahan limbah padat karaginan menjadi bioetanol juga memiliki nilai konversi yang tinggi dengan biaya produksi yang bersaing dengan bioetanol berbahan baku tebu dan dari jenis pati-patian. 

Prof Uju mengenalkan pendekatan biorefinery atau kegiatan pengolahan industri untuk mengembangkan potensi dan pemanfaatan rumput laut carrageenophyte cottonii.

Rumput laut Kappaphycus (cottonii) selain dapat menghasilkan karaginan juga dapat menghasilkan bahan-bahan biokimia lainnya. Yakni pigmen fikoeritrin, selulosa, pupuk, bioetanol, gula serta produk biokimia lainnya yang memiliki nilai jual dan nilai tambah yang tinggi untuk industri pengolahan karaginan,” ujarnya.

Baca juga: Harimau Terpapar Covid-19, Ini Penjelasannya dari Pakar IPB

Menurut Prof Uju, fikoeritrin ini banyak digunakan sebagai pewarna dalam makanan, obat-obatan, dan kosmetik. Harganya bisa mencapai US$ 3,45-14 atau antara Rp 43 -200 ribu per miligram.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.