Kompas.com - 12/08/2021, 21:44 WIB
Pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal dalam konferensi pers terkait Hasil Survei Dampak Satu Tahun PJJ Terhadap Siswa yang digelar secara daring (10/8/2021). DOK. GSMPendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) Muhammad Nur Rizal dalam konferensi pers terkait Hasil Survei Dampak Satu Tahun PJJ Terhadap Siswa yang digelar secara daring (10/8/2021).

KOMPAS.com - Di tengah masa pandemi yang panjang ini, Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) mendorong Pemerintah untuk membuat "kurikulum darurat" yang orientasinya bukan hanya mengurangi beban materi namun juga capiannya membangun kebahagiaan dan kesadaran diri siswa.

Hal ini ditegaskan Founder GSM, Muhammad Nur Rizal, terkait hasil survei dampak PJJ selama 1 tahun yang dilakukan GSM. Survei menunjukkan sebagian besar siswa di masing-masing jenjang (SD, SMP, dan SMA) merasakan emosi negatif selama melakukan PJJ.

Dalam survei yang dilaksanakan kepada 533 siswa SD/MI, 445 siswa SMP/MTs dan 265 siswa SMA/SMK/MA, data memmperlihatkan 57,2 persen siswa SD, 57,1 persen siswa SMP dan 70,6 persen siswa SMA lebih dominan merasakan emosi negatif selama menjalankan PJJ.

Emosi negatif yang dirasakan siswa selama PJJ antara lain; perasaan bosan, sedih, kurang memahami materi, kesulitan belajar, stres, bingung, kurang semangat, kurang puas, merasa kurang efetif, kurang nyaman, kurang bisa mengatur waktu dan merasa terbebani.

"Emosi negatif menduduki peringkat pertama hal yang dirasakan terhadap tugas-tugas dari guru selama PJJ. Semakin tinggi jenjang pendidikan, gap antara emosi positif dan negatif semakin lebar," ungkap Nur Rizal dalam konferensi pers yang digelar secara daring (10/8/2021).

Rizal menegarai hal ini disebabkan karena tugas yang disampaikan guru bukan meningkatkan kompetensi belajar malah membuat beban.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Hal ini mengakibatkan anak merasa tidak senang dengan belajar. Merasa tidak ada keinginan belajar dan tidak produktif dalam belajar. Padahal semakin dewasa, kebutuhan kemandirian dan otonomi belajar semakin tinggi," jelasnya.

"Hal ini berdampak pada penurunan kecerdasan dalam membangun peradaban yang semakin berdampak ke learning loss,"  tegas Rizal.

Baca juga: Sekolah di Wilayah PPKM Level 4 Tidak Boleh Jalani PTM Terbatas

Kurikulum berorientasi kebahagiaan

Oleh karena itu, Rizal kembali mengharapkan Pemerintah melalui Kemendikbud Ristek untuk membangun kurikulum yang berorientasi membangun kebahagiaan dan kesadaran siswa.

"Kenapa ini penting? Karena orang yang sadar dan bahagia, kasmaran terhadap terhadap belajar, dia akan punya energi lebih lebih, motivasi lebih untuk mencapainya. Peran sekolah hanya menciptakan ekosistemnya saja," ujar Rizal.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.