Kompas.com - 28/07/2021, 20:00 WIB
Suku Baduy dalam di Kampung Kaduketug, Desa Kanekes, Lebak, Banten, Selasa (1/3/2016). Orang Baduy hari-hari ini sudah mulai tersentuh modernitas dan mengalami perubahan baik dari cara berpakaian hingga memiliki barang-barang modern. KRISTIANTO PURNOMOSuku Baduy dalam di Kampung Kaduketug, Desa Kanekes, Lebak, Banten, Selasa (1/3/2016). Orang Baduy hari-hari ini sudah mulai tersentuh modernitas dan mengalami perubahan baik dari cara berpakaian hingga memiliki barang-barang modern.

KOMPAS.com - Bagi sebagian masyarakat, pasti sudah tidak asing dengan istilah pasaran. Perhitungan ini, sudah ada dalam masyarakat Jawa saat memutuskan sesuatu. Misalnya pernikahan, atau saat hendak bepergian jauh.

Begitu juga dengan masyarakat dari daerah lain, juga ada perhitungan serupa. Misalnya,
Masyarakat Baduy yang hingga kiniasih berpatokan pada perhitungan semacam ini.
Mereka sangat memegang teguh adat tradisi, kepercayaan, dan patuh terhadap pimpinannya.

Keteguhannya dalam mempertahankan tradisi leluhur dianggap jauh dari modernisme, bahkan kerap dianggap tidak mengenal huruf dan angka.

Anggapan bahwa masyarakat Baduy terbelakang disanggah oleh Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad) Elis Suryani Nani Sumarlina. Menurutnya, masyarakat Baduy sangat mengenal bilangan dan aksara yang dapat dihapal berikut nilainya masing-masing.

Baca juga: Peneliti IPB: Tanaman Herbal Ini Berkhasiat Redakan Asam Urat

Hal ini terungkap dalam alat berupa kolénjér dan sastra yang dijadikan acuan penanggalannya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Namun, hanya orang tertentu yang menguasainya, di antaranya Puun, Jaro, dan para sesepuh adat,” kata Elis, dilansir dari laman Unpad.

Elis menjelaskan, kolénjér merupakan alat perhitungan yang terbuat dari kayu. Alat tersebut diberi lubang yang tidak tembus, berupa titik dan garis yang membentuk kotak tertentu.

Jumlah titik-titik dan garis-garis dalam satu kotak mempunyai arti dan tafsiran tersendiri. Demikian pula dengan semua tanda yang digoreskannya tertera ukuran hari yang memiliki nilainya masing-masing, begitu juga dengan pasarannya.

Penggunaan penghitungan kolénjér, dirinci oleh Elis. Untuk hari minggu atau Ahad memiliki nilai 5 dan disebut Hadma. Lalu senin atau Sénén memiliki nilai opat ‘empat’ (Nenpat).
Selasa atau Salasa memiliki nilai tilu ‘tiga’ (Salu), rabu atau Rebo memiliki nilai tujuh (Bojuh), kamis atau kemis, memiliki nilai delapan atau dalapan (Mispan). 

Kemudian jumat atau Jumaah memiliki nilai ‘enam’ (Manep) dan Saptu atau Sabtu nilainya sembilan atau salapan (Tupan).

Baca juga: Indofood Buka Lowongan Kerja 2021 untuk Lulusan SMA/SMK-S1

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.