Kompas.com - 21/07/2021, 13:10 WIB
Ilustrasi mahasiswa SHUTTERSTOCKIlustrasi mahasiswa
Penulis Dian Ihsan
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Tim Psikologi UI mengaku mahasiswa rentan mengalami kecemasan, depresi, dan rasa stres.

Hal itu berdasarkan penelitian tim psikologi UI kepada sebanyak 5.817 orang, terdiri dari 2.910 guru, 256 dosen, dan 412 mahasiswa.

Baca juga: Rektor Unand: 167 Mahasiswa Mengundurkan Diri

Hasil dari penelitian itu, kata Dosen Psikologi UI Dyah T. Indirasari, menunjukkan guru dan dosen puas terhadap kehidupannya saat ini.

Sedangkan, mahasiswa berada di dalam kategori agak puas yang artinya diperlukan intervensi dari pihak eksternal untuk meningkatkan kepuasan hidupnya.

Selain itu, guru, dosen, dan mahasiswa memiliki emosi positif yang tinggi.

Hanya saja, mahasiswa memiliki kecenderungan emosi negatif yang tinggi pula.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Hal ini mencerminkan mahasiswa rentan terhadap kecemasan, depresi, dan rasa stres yang dapat mengganggu kesehatan mentalnya," ucap dia melansir laman UI, Rabu (21/7/2021).

Menurut Psikolog yang juga Sekretasi Program Studi Pasca Sarjana Fakultas Psikologi UI Imelda Ika Dian Oriza, well-being merupakan kunci dari terbentuknya mental yang sehat.

Imelda mengaku, well-being dapat mempengaruhi kesehatan mental, karena emosi positif yang dihasilkan seseorang akan membuat kondisi mentalnya lebih baik dan optimis.

Baca juga: Mahasiswa, Ini 5 Tips Semangat Kuliah Setelah Libur Panjang

Dia menyebut, kondisi mahasiswa yang memiliki energi negatif yang cukup tinggi mempengaruhi kesehatan mentalnya.

"Dalam hemat saya, tingginya emosi negatif mahasiswa dikarenakan masa transisi yang tengah dialami mahasiswa dari masa remaja ke masa dewasa," sebut dia.

Saat ini, bilang dia, mahasiswa dituntut harus mampu beradaptasi dengan kebebasan yang baru dimilikinya di bangku kuliah.

Lalu, perubahan kondisi sosial yang mahasiswa temui dan ditambah kondisi pembelajaran yang berbeda saat ini membuat mahasiswa mengalami rasa kecemasa yang tinggi dan rentan menderita depresi.

Untuk mengatasi rasa kecemasan itu, dia mengakui, mahasiswa perlu dapat dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak, mulai dari dosen, universitas, maupun orang tua.

Karena, meski mahasiswa sudah mulai beranjak dewasa, tapi tetap memerlukan bimbingan untuk menemukan jati dirinya yang nantinya akan meningkatkan resiliensi dan well-being mereka.

Dia mencontohkan, dukungan dari universitas melalui penyediaan layanan konseling, pemahaman dari dosen dalam kegiatan belajar mengajar dengan tidak memberikan tekanan pada mahasiswa.

Baca juga: 5 Aktivitas Olahraga Saat Mahasiswa Bosan dengan Kuliah Online

"Sedangkan peran orang tua di rumah sebagai subjek tempat mahasiswa bercerita merupakan kunci untuk mengatasi potensi rasa kecemasan mahasiswa," pungkas Imelda.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.