Kompas.com - 22/06/2021, 21:35 WIB
ilustrasi tempe. SHUTTERSTOCK/Ika Rahma Hilustrasi tempe.
Penulis Dian Ihsan
|
Editor Dian Ihsan

"Jadi, promosi nilai dan manfaat tempe bagi kesehatan harus terus dilakukan agar menjadi makanan yang dicari dan dibutuhkan masyarakat Jepang," ujar dia.

Rustono menyampaikan, tempe yang dikembangkannya di Jepang dilakukan secara otodidak.

Walaupun lokasi kota Shiga terpencil, dia memilih lokasi ini karena ketersediaan air bersih yang kualitasnya mendukung proses produksi tempe.

Industri tempe yang dikembangkannya berbahan kedelai non Genetically Modified Organism (GMO).

Sebagai informasi, GMO adalah teknik modifikasi DNA organisme lewat rekayasa genetika.

"Kapasitas produksi kami maksimal 10 ribu tempe per siklus," jelas Rustono.

Rustono juga terus berupaya memperkuat jaringan dan meningkatkan pengetahuan dengan menjadi anggota Tempe Society of Japan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Komunitas ini senantiasa mengadakan pertemuan ilmiah tahunan dan menghasilkan publikasi Journal of the Tempe Society of Japan," jelas Rustono.

Baca juga: Peserta Ujian Jalur Mandiri Unair Wajib Bawa Hasil Swab Antigen

Rustono juga banyak mengenal anggota Forum Tempe Indonesia. Tidak hanya di Jepang, Rustono pun mengembangkan industri tempe di Meksiko.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.