Kompas.com - 21/06/2021, 16:15 WIB
Kegagalan meraih beasiswa umumnya karena tidak memenuhi persyaratan, seperti aplikasi yang tidak lengkap, nilai TOEFL atau IELTS yang rendah, IPK tidak mencukupi, serta tidak ada letter of acceptance dari universitas di Belanda. www.shutterstock.comKegagalan meraih beasiswa umumnya karena tidak memenuhi persyaratan, seperti aplikasi yang tidak lengkap, nilai TOEFL atau IELTS yang rendah, IPK tidak mencukupi, serta tidak ada letter of acceptance dari universitas di Belanda.

Kompas.com - Game komputer sering kali mendapat cap negatif. Dari tuduhan menimbulkan adiksi, mengurangi aktivitas fisik, hingga mendorong timbulnya perilaku agresi.

Pelaku penembakan massal pada Agustus 2019 di Wallmart Texas, AS, bahkan mengindikasikan sang pelaku bermain game bertema kekerasan.

Namun, sejumlah penelitian menunjukkan tak ada kaitan antara game dan perilaku agresif. Penelitian Profesor Psikologi Christopher J. Ferguson yang diterbitkan dalam jurnal Perspectives on Psychological Science misalnya, tidak menemukan adanya keterkaitan antara gim komputer dengan perilaku agresi.

Bahkan peneliti Blessinger & Wankel mengungkap, game sejatinya sudah dimanfaatkan untuk pembelajaran sejak 1992.

Baca juga: Toyota Indonesia Buka Lowongan Kerja Magang Full Time 2021

Sejak itu, pemanfaatan digital gaming dalam bidang pendidikan telah banyak diterapkan. Riset oleh Wouters dan van Oostendorp, menyimpulkan bahwa game akademik terbukti lebih efektif ketimbang media pembelajaran konvensional.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Gamifikasi pendidikan, juga diterapkan di Universitas Pertamina. Kami mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan inovatif melalui mata kuliah Critical Thinking dan Creative Problem Solving. Sehingga diharapkan mereka dapat menghasilkan terobosan inovasi," kata Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Pertamina, Budi W. Soetjipto, dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.

Salah satunya game yang bermanfaat ialah game pendidikan kreasi Revyra Phoebe, mahasiswi Program Studi Ilmu Komputer Universitas Pertamina.

Ia mencipta game komputer bernama TOEFL (Test of English as a Foreign Language) Adventure untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris mahasiswa.

“Dari survei kecil yang saya lakukan, setidaknya ada 30 persen mahasiswa yang mengaku nilai TOEFL-nya belum memenuhi target. Game ini melatih kemampuan listening comprehension, structure and written expression, dan reading comprehension," jelas Revyra.

Baca juga: Aplikasi Ini Bantu Siswa Pecahkan Soal Matematika

Agar lebih seru dan kompetitif, lanjut Revyra, ia juga menyematkan fitur ranking dan aksesoris yang dapat dibeli dengan menggunakan koin.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X