Badan Akreditasi Nasional: Ini Cara Tingkatkan Mutu dan Kualitas Pendidikan di Indonesia

Kompas.com - 15/06/2021, 20:15 WIB
Ketua BAN-S/M Dr. Toni Toharudin, M.Sc., saat menjadi pemateri pada Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP) Batch 2 yang digagas Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) kolaborasi dengan PT Paragon Technology and Innovation secara daring, Selasa (15/6/2021). Tangkapan layar Zoom GWPPKetua BAN-S/M Dr. Toni Toharudin, M.Sc., saat menjadi pemateri pada Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP) Batch 2 yang digagas Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) kolaborasi dengan PT Paragon Technology and Innovation secara daring, Selasa (15/6/2021).
|

KOMPAS.com - Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) Kemendikbud Ristek terus berupaya meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia. Salah satunya mendorong sekolah dan madrasah tetap terakreditasi.

Meski demikian, hal ini bukan sesuatu yang mudah. Apalagi Indonesia memiliki jumlah sekolah dan madrasah yang sangat banyak. Jumlahnya mencapai lebih dari 270 ribu yang tersebar di seluruh Indonesia.

Seperti diungkapkan oleh Ketua BAN-S/M Dr. Toni Toharudin, M.Sc. Dia memiliki data empirik terkait persentase sekolah dengan akreditasi A dan B mengalami peningkatan sejak 2015 hingga 2018.

Baca juga: Ini Cerita 2 Guru Hebat Ikut Wardah Inspiring Teacher yang Diasah Terus Kompetensinya

Misalnya saja untuk jenjang SMP. Persentase capaiannya sebesar 35,45 pada tahun 2015. Kemudian naik menjadi 48,8 pada 2016. Naik lagi jadi 60,35 (2017) hingga menjadi 71,61 pada tahun 2018.

Hanya saja, persentase itu tidak diimbangi dengan capaian hasil Ujian Nasional yang justru mengalami penurunan dari tahun 2015 hingga 2018.

"Tetapi, hasil ujian nasional dan capaian PISA sebelum Covid-19 ini mengalami penurunan," ujar Toni saat menjadi pemateri pada Fellowship Jurnalisme Pendidikan (FJP) Batch 2 yang digagas Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) kolaborasi dengan PT Paragon Technology and Innovation secara daring, Selasa (15/6/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Toni juga mencontohkan hasil ujian nasional pada 2015 dari 61,8 turun menjadi 58,6 pada 2016. Bahkan terus menurun menjadi 54,3 di 2017 dan kembali turun jadi 51,1 pada 2018.

Untuk itulah dia bersama BAN-S/M Kemendikbud Ristek terus melakukan introspeksi diri terhadap data empirik tersebut. Maka pada 2018 pihaknya berkomitmen untuk membuat reform pada sistem akreditasi.

"Selama 15 tahun ini kualitas pendidikan di Indonesia tidak mengalami perubahan yang signifikan," terangnya.

Baca juga: Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan: Hati-hati Menulis Berita Prestasi Anak

Maka dari itu, reform yang dia maksud ialah merubah dari sistem akreditasi yang dulu tidak menggunakan teknologi, kini menggunakan sistem bernama Dashboard Monitoring System.

Halaman:


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X