Kompas.com - 08/06/2021, 21:24 WIB
ilustrasi kanker ilustrasi kanker
Penulis Dian Ihsan
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Tim Dosen Institut Teknologi Sumatera (Itera) dari Pusat Riset dan Inovasi (Purino) Material Hayati dan Material Alami tengah meneliti beberapa bahan alami yang bisa dimanfaatkan sebagai obat anti kanker.

Hal itu dikarenakan menjadi bagian inovasi yang coba dikembangkan dari kampus.

Baca juga: Pakar Unair: Sinetron Zahra Sadarkan Masyarakat Bahaya Pernikahan Dini

Sekretaris Purino Material Hayati dan Material Alami Itera, Rahmat Kurniawan mengatakan, berbagai metode bisa dilakukan guna mendapatkan senyawa organik yang bisa digunakan sebagai obat-obatan, khususnya obat-obatan kanker.

Senyawa organik bisa didapatkan dari berbagai macam bahan alam, terlebih lagi Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman hayati paling tinggi di dunia.

"Contohnya pada tumbuhan tapak dara yang dapat kita temui di Itera, pada tumbuhan tapak dara memiliki kandungan alkaloid yang bernama vinkristin yang saat ini biasa digunakan untuk obat kanker stadium 3 dan 4," ucap dia melansir laman Itera, Selasa (8/6/2021).

Selain itu, kata dia, saat ini tim peneliti Purino Material Hayati dan Material Alami Itera juga sedang meneliti tanaman taxus sumatrana (Cemara Sumatera).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Tanaman taxus sumatrana ini memiliki senyawa organik yang bisa dikembangkan juga sebagai obat anti kanker yang bernama Paclitaxel," ungkap dia.

Baca juga: Psikolog Unair: 3 Langkah Tepat Pertolongan Pertama Cegah Bunuh Diri

Ketua Lembaga Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Penjamin Mutu (LPPPM) Itera, Acep Purqon berharap berbagai riset yang dikembangkan dosen Itera bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Jawa, khususnya Indonesia secara umum.

Sementara itu, Peneliti Pusat Penelitian Kimia LIPI, Siti Nurul Aisyiyah Jenie menjelaskan, pada tahun 2012 terdapat 770.000 kasus kanker dan 520.000 kasus kematian karena kanker.

Dia menyebut, angka kasus itu diprediksi akan meningkat hingga sebesar 70 persen di Tahun 2030.

Dia menjelaskan, salah satu penyebab kasus kematian yang cukup signifikan karena kanker adalah rata-rata orang baru terindikasi kanker pada saat mereka sudah ada di stadium 2 dan stadium 3.

Oleh karena itu, sebut dia, saat ini para peneliti Kimia LIPI sedang mengembangkan pembuatan alat deteksi dini kanker.

Alat yang akan dibuat itu akan menggunakan bahan anorganik dari material alam dengan pendekatan nanoteknologi.

Baca juga: PTM Terbatas, Nadiem Makarim: Siswa Tetap Jaga Protokol Kesehatan

"Bahan yang dipilih untuk digunakan sebagai alat deteksi dini kanker adalah silikon mesopore," pungkas dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X