Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dosen Komunikasi UGM: Doxing Musuh Baru Kebebasan Pers

Kompas.com - 26/05/2021, 12:10 WIB
Dian Ihsan

Penulis

KOMPAS.com - Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan kepada berbagai lini masa kehidupan masyarakat.

Semua mulai berpindah ke dunia digital, baik itu kegiatan yang bersifat positif bahkan negatif sekalipun seperti tindak kejahatan, seperti kejadian dalam dunia pers.

Baca juga: LPDP: Alumni UGM Harus Tingkatkan Kompetensi

Sebagaimana yang dapat diperhatikan, produk –produk media sudah mulai beralih dari bentuk-bentuk media cetak kepada bentuk-bentuk media online.

Namun, perubahan tersebut diikuti pula oleh perubahan bentuk-bentuk ancaman kepada kebebasan pers para jurnalis.

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, Wisnu Prasetya Utomo mengungkapkan, ancaman kepada jurnalis sudah mulai banyak dilakukan secara online.

Jika dahulu ancaman kepada kebebasan pers yang biasanya berasal dari negara, berbagai kekuatan politik, kelompok masyarakat sipil dilakukan secara offline, seperti pembunuhan, penyerangan fisik, dan lain sebagainya.

Maka, kata dia, sekarang bentuk-bentuk ancaman kepada kebebasan pers salah satunya adalah seperti doxing.

Doxing merupakan sebuah tindakan membongkar atau menyebarluaskan informasi pribadi seseorang tanpa mempunyai izin dari pihak yang berasngkutan.

"Nah sekarang jurnalis yang menulis secara kritis terkait isu tertentu, kalau orang tidak suka terhadap pemberitaannya gampang untuk mendoxing atau mengintimidasi jurnalis yang bersangkutan, data-data privatnya di share (posting) di media sosial," ucap dia melansir laman UGM, Rabu (26/5/2021).

Baca juga: Pakar Gizi UGM: Perlu Penyesuaian Pola Makan Setelah Puasa

Kebebasan pers

Padahal tanggal 3 Mei 2021, baru memperingati hari kebebasan pers yang diprakarsasi oleh UNESCO.

Menurut dia, kekebasan pers berarti mencakup kebebasan kepada dua hal, yakni:

1. Kebebasan media pers.

2. Kebebasan publik untuk mengaksesnya.

Dia menjelaskan, industri media harus mempunyai kebebasan untuk memberikan informasi kepada masyarakat.

Di mana media ketika memproduksi informasi tidak mendapat tekanan, tidak mendapat intimidasi, serta tidak dihadang sensorship dari pihak tertentu.

Disamping itu, Wisnu juga mengatakan publik seharusnya juga harus mendapatkan kebebasan, yakni kebebasan untuk memilih dan mengakses media tersebut.

Baca juga: Negara Jamin Beasiswa dan Biaya Hidup Anak Awak KRI Nanggala-402

"Informasi itu sebagai benda publik karena sebagai benda publik (maka) artinya kita harus punya kebebasan untuk mengakses dan mereka dari industri media juga mempunyai kebebasan untuk meberikan informasi kepada publik (kita)," tukas Wisnu.

 
Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com