Kompas.com - 22/05/2021, 10:00 WIB

KOMPAS.com - Di Indonesia, daun katuk atau Sauropus androgynous terbilang cukup mudah ditemukan. Beberapa orang menggunakan katuk sebagai obat herbal tradisional dan pakan ternak. Bagi ibu menyusui, daun katuk sangat populer untuk menambah volume Air Susu Ibu (ASI).

Beberapa jenis produk kecantikan juga menggunakan daun katuk sebagai bahan baku.

Untuk masyarakat di Jawa, daun katuk justru diolah sebagai sayuran dan pewarna makanan. Tanaman ini banyak ditemukan di daerah tropis Asia Selatan.

Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), data yang dirilis tentang tanaman katuk tersebar di negara-negara Asia Selatan yaitu Cina, India, Sri Lanka dan Asia Tenggara yaitu Vietnam, Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, dan Filipina. Umumnya dikenal sebagai Katuk (Indonesia), Mani Cai (Cina), Cekur Manis (Malaysia), Pak-Wanban (Thailand), Raungot (Vietnam), dan Simani (Minangkabau).

Baca juga: Peneliti IPB Temukan Minuman Penurun Gula Darah Berbasis Rempah

Cara menanamnya juga tergolong mudah, bahkan bisa dijadikan tanaman hias di pagar dan halaman dengan metode ekstensifikasi dapat dikembangkan di perkebunan khusus.

Untuk cara menanamnya, dijelaskan akademisi Universitas Airlangga (Unair) Faisal Fikri, menyebut di Indonesia, tumbuhan ini dapat tumbuh dengan cukup air atau hanya sebagai pagar rumah. Katuk dapat tumbuh dengan lingkungan yang ideal, yaitu suhu udara 21-32oC, tingkat kelembaban relatif (RH) 50-80% dan curah hujan antara 750-2500 mm/tahun. Tanaman ini dapat berkurang di musim kemarau lebih dari enam bulan berturut-turut. Katuk tumbuh di dataran rendah hingga 120 m di atas permukaan laut dan di hutan sebagai tanaman liar.

Di Jawa Barat, tanaman ini dapat ditemukan di ladang dengan ketinggian 1.300 m. Stek batang dapat digunakan untuk meningkatkan proses vegetatif.

“Berdasarkan analisis fisik dan data spektroskopi, katuk mengandung lignan diglycoside, (-) – O- -apiofuranosyl- -O- -glucopyranoside dan megastigmane glukosida. Polifenol dan flavonoid dalam ekstrak katuk memiliki sifat antioksidan potensial dan mampu mengobati penyakit yang dimediasi radikal bebas. Aktivitas antioksidan ditemukan dalam 20 μg/ml. Total fenol katuk 1,52 mg GAE/100 g digunakan sebagai antioksidan alternatif,” ujar Faisal dilansir dari laman resmi unair.ac.id

Baca juga: Peneliti IPB: Tanaman Herbal Ini Berkhasiat Redakan Asam Urat

Manfaat daun katuk

Lebih lanjut ia juga menjelaskan bahwa katuk bermanfaat selama respons peradangan, nyeri, dan demam. Selain itu, bisa menangkal radikal bebas. 

Senyawa alkaloid, steroid, dan terpenoid bisa mengatasi nyeri dan demam. Lalu senyawa turunan fitokonstituen yang ditemukan pada saponin, tanin, triterpenoid, dan kumarin katuk memiliki sifat obat antiinflamasi atau anti pembengkakakn non-steroid (NSAID). Termasuk adanya antinosiseptif dan analgesik dalam pengobatan tradisional.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.