Kompas.com - 22/04/2021, 15:00 WIB
Ilustrasi Internet shutterstockIlustrasi Internet

KOMPAS.com - Media sosial menjadi salah satu bagian dari teknologi yang tidak dapat dipisahkan di kehidupan sehari-hari.

Meski demikian, media sosial bisa memberikan dampak baik maupun buruk, bergantung pemanfaatannya. Menjadi penghubung komunikasi antar manusia dan penyedia informasi terkini adalah contoh dampak positif dari media sosial.

Hanya saja, semakin canggih teknologi, penggunaan media sosial banyak disalahgunakan oleh pihak tertentu. Saat ini, banyak para pengguna media sosial menjadi korban penipuan yang bermula dari pencurian data pribadi.

Baca juga: Unair Buka Jalur Mandiri Kemitraan, Ini Syarat dan Jadwalnya

Agar data pribadi terhindar dari kasus pencurian, Dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga, Badrus Zaman, menuturkan bahwa bermedia sosial harus memahami informasi yang telah dibagikan mengandung konsekuensi. Konsekuensi tersebut bergantung seberapa detail informasi yang dibagikan.

“Semakin banyak informasi detail yang kita (pengguna media sosial, Red) bagikan, maka semakin rentan curian data yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak berkepentingan dan tidak bertanggung jawab,” tutur dosen Sistem Informasi tersebut dilansir dari laman unair.ac.id.

Social engineering menjadi awal mula maraknya penipuan dan pencurian data di media sosial. Hal itu didasari seberapa banyak informasi yang didapat oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Badrus- sapaan akrabnya, mengungkapkan bahwa sebenarnya data yang tersedia di media sosial tidak harus dicuri. Hal ini karena data tersebut telah disediakan oleh pengguna secara sadar atau tidak sadar dengan membagikan informasi detail yang dimilikinya.

Baca juga: Pendaftaran STAN 2021 Dibuka, Ini Syarat Nilai Minimal UTBK 2021

Dengan memanfaatkan informasi yang tersedia di media sosial, siapa pun dapat memanfaatkan informasi tersebut dan kemudian dapat digunakan untuk berbagai hal tergantung seberapa banyak informasi yang didapatkan.

Pemanfaatan informasi ini juga dapat berdampak pada hal yang paling krusial, yakni akuisisi akun pengguna sehingga pengguna tidak bisa masuk ke akun media sosial miliknya.

Akuisisi data tersebut, sambungnya, sebenarnya dapat dicegah dengan memanfaatkan fitur yang sudah ada, yakni double cross check. Fitur double cross check dapat mempermudah pengguna untuk mengetahui bila ada perangkat baru yang ingin mengakses akun media sosial miliknya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X