Kompas.com - 16/04/2021, 17:25 WIB
Serda (K) Aprilia Santini Manganang melambaikan tangan sebelum mengikuti sidang penggantian jenis kelamin dan penggantian nama secara virtual yang berlangsung dari Pengadilan Negeri Tondano, Sulawesi Utara, di Markas Besar TNI Angkatan Darat, di Jakarta, Jumat (19/3/2021). ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYATSerda (K) Aprilia Santini Manganang melambaikan tangan sebelum mengikuti sidang penggantian jenis kelamin dan penggantian nama secara virtual yang berlangsung dari Pengadilan Negeri Tondano, Sulawesi Utara, di Markas Besar TNI Angkatan Darat, di Jakarta, Jumat (19/3/2021).
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Belum lama ini publik dihebohkan dengan pemain tim nasional (timnas) voli Indonesia, Aprilia Manganang, yang didiagnosis mengalami hipospadia. Semenjak peristiwa ini, membuka pemahaman publik bahwa ada kemungkinan salah dalam penentuan jenis kelamin bayi.

Pakar genetika medik dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof. Sultana MH Faradz mendesak adanya standar manajemen penanganan gangguan perkembangan seksual secara nasional.

Karena, gangguan tersebut membutuhkan penanganan komprehensif dan multidisiplin.

“Penanganan sejak dini akan meningkat kualitas hidup penderita,” kata Prof. Sultana mengutip dari laman undip.ac.id, Jumat (16/4/2021).

Prof. Sultana mengungkapkan, pada rentang tahun 2004 hingga 2020 ditemukan 1.069 kasus gangguan perkembangan seksual.

Dari kasus yang terdeteksi, 37 persen di antaranya merupakan hipospadia, yakni kelainan bocor saluran jalan keluar air seni yang terjadi pada saluran kemih dan penis.

Baca juga: Gunakan Kursi Roda, Chantika Tetap Semangat Ikuti UTBK di Undip

Perlu standar manajemen penanganan

Sampai saat ini belum ada standar manajemen penanganan gangguan perkembangan seksual secara nasional.

Sehingga sering terjadi keterlambatan penanganan. Banyak penderita yang baru mencari bantuan untuk mengatasi kelainannya menjelang dewasa.

“Kalau ditangani sejak dini maka tidak terjadi kebingungan dalam menentukan gender, pola asuh dan kualitas hidup penderita akan lebih baik,” tegasnya.

Baca juga: Calon Mahasiswa, Simak Jawaban LTMPT Seputar Persiapan UTBK-SBMPTN

Mengenai penyebab hipospadia, lanjut Sultana, kelainan hormonal sebagai salah satu faktornya. "Bisa juga terjadi karena paparan lingkungan seperti pestisida dan obat nyamuk bakar. Selain itu juga bisa karena kelainan genetik,” imbuh Sultana.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X