Kompas.com - 16/04/2021, 09:42 WIB
Ilustrasi berbincang. Mengajak berbincang adalah salah satu cara untuk mengenali apakah lawan bicara melakukan kebohongan. SHUTTERSTOCKIlustrasi berbincang. Mengajak berbincang adalah salah satu cara untuk mengenali apakah lawan bicara melakukan kebohongan.

KOMPAS.com - Tak hanya dalam percakapan yang menggunakan Bahasa Sunda, kata "Aing" kini banyak digunakan penutur sebagai kata ganti pertama menggantikan “gua” dalam percakapan sehari-hari.

Penggunaan aing dalam bahasa Indonesia di ragam percakapan kerap menimbulkan perdebatan. Pasalnya, kata ini dalam tatakrama bahasa Sunda termasuk ke dalam jenis bahasa kasar.

Menyikapi fenomena kebahasaan tersebut, Dosen Program Studi Sastra Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Gugun Gunardi mengatakan kata aing boleh digunakan penutur bahasa Sunda maupun di luar Sunda selama konteks komunikasi dilakukan dengan penutur lain yang berusia sama.

Baca juga: Ini Biaya Kuliah di Universitas Indonesia 2021 Program S1 Reguler

“Bahasa kasar bisa menjadi halus bergantung pada intonasi yang digunakan,” ujar Gugun saat diwawancarai Kantor Komunikasi Publik Unpad, seperti dirangkum dari laman Unpad, Jumat (16/4/2021).

Bisa digunakan sesuai konteks

Ahli linguistik ini mengatakan kata sapaan ini kerap digunakan penutur bahasa Sunda untuk menjalin percakapan standar. Bahkan, aing bisa digunakan untuk percakapan dengan teman sebaya sebagai ungkapan candaan atau hiburan.

“Dalam bahasa Sunda, selama penggunaannya tidak mementingkan tingkat tutur bahasa menjadi tidak masalah,” tambahnya.

Baca juga: 10 PTN dengan Nilai UTBK Saintek Tertinggi di SBMPTN 2019-2020

Gugun pun memandang positif penggunaan kata aing dalam percakapan bahasa Indonesia. Penggunaan aing sebagai kata ganti orang pertama di luar penutur bahasa Sunda dipandang bisa memopulerkan eksistensi bahasa Sunda di tingkat nasional.

Meski demikian, Gugun mengatakan penutur juga wajib mengetahui tingkat tutur bahasa Sunda. Minimal, penutur mengetahui mana kata yang masuk ke dalam ragam bahasa Sunda kasar, sedang, hingga halus.

“Silakan gunakan bahasa Sunda itu. Dengan intonasi tertentu, kata kasar itu bisa menjadi bagus, dan tidak digunakan untuk mem-bully atau memojokkan orang lain,” ujar Gugun.

Baca juga: 10 PTN dengan Nilai UTBK Saintek Tertinggi di SBMPTN 2019-2020

Ia memperkirakan kata aing pertama kali dipopulerkan oleh Bobotoh, atau komunitas pendukung klub sepak bola Persib Bandung.

Banyaknya jargon yang menggunakan kata aing oleh Bobotoh menyebabkan banyak orang di luar penutur Sunda menjadi banyak menggunakannya sebagai kata sapaan yang menggantikan kata “gua” atau “aku”.

Karena dipakai oleh sosiolek, atau penutur dari kelompok sosial tertentu, maka orang di luar komunitas menjadi terpengaruh untuk menggunakan kata serupa dalam percakapan sehari-hari.

“Orang lain yang tidak paham dengan kata aing dianggap sebagai kata gagah yang menjadi penanda komunikasi. Saya melihat fenomena aing itu menjadi sering digunakan dan banyak digunakan di luar penutur bahasa Sunda,” kata Gugun.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X