Kompas.com - 11/04/2021, 13:33 WIB
Bedah dan rilis film Mimpi Anak Sakai Riau diinisiasi Fakultas Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) di Pekan Baru pada Rabu, 7 April 2021. DOK. UMRIBedah dan rilis film Mimpi Anak Sakai Riau diinisiasi Fakultas Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) di Pekan Baru pada Rabu, 7 April 2021.

KOMPAS.com - Suku Sakai di pedalaman Riau didorong untuk terus melakukan edukasi terhadap masyarakat guna melepas stigma suku terasing yang selama ini melekat. Dorongan ini mengemuka dalam peluncuran film pendek berjudul "Mimpi Anak Sakai Riau".

Bedah dan rilis film "Mimpi Anak Sakai Riau" diinisiasi Fakultas Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) di Pekan Baru pada Rabu, 7 April 2021.

Hadir dalam diskusi tersebut, Satria Utama (Ketua Forum Jurnalis Kreatif Riau), Iya Setyasih (Dekan Ilmu Ekonomi Sosial Universitas Mulawarman), Romi Mesra (Dosen Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Manado), dan Yanuardi Syukur (Dosen Antropologi Sosial, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Khairun Ternate).

Dalam kesempatan peluncuran film yang merupakan karya 5 orang jurnalis yang tergabung dalam Forum Jurnalis Kreatif Riau ini, Tarmizi (Ketua Majelis Kerapatan Adat Batin, Limo Mineh, Riau) menegaskan masyarakat Sakai di pedalaman Riau saat ini tak mau lagi disebut sebagai suku terasing.

Alasannya, banyak anak dari suku tersebut kini telah memberikan banyak kontribusi dalam berbagai bidang kehidupan seperti anggota DPRD, pengusaha dan pekerja kantoran.

"Kami menolak sebutan suku terasing bagi Suku Sakai. Karena saat ini, banyak anak dari Suku Sakai yang berpendidikan tinggi dan memiliki ekonomi yang bagus," ujar Tarmizi. 

Dalam kesempatan sama, Tarmizi juga meminta agar anak-anak Sakai diperlakukan secara adil, di antaranya diberi kesempatan sama untuk bekerja di bidang apa saja di pemerintahan.

Baca juga: Ritual Rawat Mayat Suku Toraja di Perbatasan RI-Malaysia Beri Pesan Damai Jelang Paskah

 

Edukasi terkait Suku Sakai

Dekan Fakultas Komunikasi UMRI, Jayus menyatakan, pihaknya siap untuk bermitra dengan Forum Jurnalis Kreatif Riau untuk membuat film lainnya. Dengan demikian, stigma suku terasing yang melekat pada Suku Sakai dapat terhapus secara bertahap.

"Tentunya kita juga perlu riset dan menayangkan film dokumenter itu di berbagai kesempatan. UMRI akan mulai melakukan edukasi terkait masyarakat Sakai lewat jejaring sosial yang dimiliki UMRI," ucapnya.

Yanuardi Syukur yang hadir sebagai pembedah film dari kalangan akademisi menyatakan, Suku Sakai harus gencar melakukan edukasi agar stigma terasing itu dapat dihapus dari masyarakat secara bertahap.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X