Kompas.com - 21/03/2021, 14:34 WIB
Ekonom R. Thaler membahas ekonomi perilaku di buku misbehaving DOK.GPUEkonom R. Thaler membahas ekonomi perilaku di buku misbehaving

Karena hal ini Thaler mengatakan, ilmu ekonomi mainstream didasari anggapan bahwa manusia adalah makhluk rasional, logis, jago menghitung, tak beremosi, berpandangan jauh. Menurut Thaler, gambaran inilah yang disebut “Ekon”.

Sosok ini memang banyak muncul di buku, teori, dan model ekonomi. Tapi tak ditemukan di dunia nyata. Manusia sungguhan tidak punya emosi, tidak selalu bisa menghitung, dipengaruhi berbagai naluri, dan lebih cenderung berpandangan jangka pendek lah yang ada di dunia nyata. Itu menurut Thaler.

Ia berpendapat, ilmu ekonomi mainstream mungkin tidak keliru, tapi mungkin berlakunya bukan untuk manusia.

Itulah sebabnya, manusia sering sekali sukar berperilaku rasional dalam membuat keputusan ekonomi. Misal, kita tahu menyisihkan 10 persen gaji untuk tabungan di masa depan bisa membuat kita lebih untung. Atau, menginvestasikan tabungan yang menguntungkan di masa depan.

Tapi, seberapa banyak manusia yang sanggup menabung dan menjalankan hal ini? Godaan belanja, gaya hidup, akhirnya mengorbankan rencana pada masa depan. Alhasil, gaji habis dan tidak tersisa untuk tabungan atau investasi. Rasional? Tidak. Kesenangan yang dekat dan terasa sesaat terasa lebih kuat daripada kesenangan masa depan yang lebih besar.

Padahal secara rasional seharusnya kesenangan lebih besar pada masa depan itu lebih memuaskan daripada kesenangan saat ini yang nilai ekonominya sama besar.

Contoh lainnya, saat kita melihat barang yang harganya sedang didiskon besar, lalu langsung membelinya tanpa berpikir.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal itu karena kita merasa tawaran itu menguntungkan. Biasanya kita baru sadar ketika minggu depannya atau bulan depannya saat melihat barang yang sama, dengan harga diskon yang sama. Lalu tahun depannya harganya tetap harga diskon. Ternyata memang itu harga aslinya. Rasional? Tidak.

Baca juga: Seri Keluarga Super Irit: Belajar Hemat dan Life Hack dari Buku Ini

Kita kena efek jangkar dan pembingkaian. Harga asli yang ditampilkan seolah “harga diskon” membuat perhitungan kita melenceng menimbulkan perasaan seolah mendapat untung ketika menemukan “harga diskon”. Padahal mau dibeli kapanpun, harganya sebegitu juga.

Thaler menemukan contoh-contoh itu sepanjang kariernya. Manusia itu punya rasa tak suka rugi, rabun jauh, punya masalah pengendalian diri, dan lainnya. Bersama beberapa ahli lain, Thaler lantas mengembangkan cabang baru ekonomi, yakni ekonomi perilaku (behavioural economics).

Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X