Kompas.com - 20/03/2021, 08:42 WIB
Seorang anak harus menutup mukanya karena menjadi korban bully dari teman-temannya. ThinkstockSeorang anak harus menutup mukanya karena menjadi korban bully dari teman-temannya.

KOMPAS.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima setidaknya 37.381 laporan perundungan dalam kurun waktu 2011 hingga 2019. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.473 kasus disinyalir terjadi di dunia pendidikan.

Sementara itu, Organisation of Economic Co-operation and Development (OECD) dalam riset Programme for International Students Assessment (PISA) pada Tahun 2018 mengungkapkan, sebanyak 41,1 persen murid di Indonesia mengaku pernah mengalami perundungan.

Selain itu, di tahun yang sama, Indonesia juga berada di posisi ke-5 dari 78 negara dengan murid yang mengalami perundungan paling banyak.

Perundungan bisa menular

Selain memberikan dampak negatif secara fisik dan psikis bagi korban, perundungan juga dinilai dapat menjadi "penyakit menular".

Baca juga: Belajar dari Orangtua Jepang Cara Menanamkan Disiplin pada Anak

Bahkan, sebuah badan amal anti penindasan Ditch the Label pada tahun 2016 melakukan survei kepada 8.850 responden berusia 12 hingga 20 tahun. Dari hasil penelitian tersebut terungkap bahwa sebanyak 14 persen pelaku perundungan merupakan korban.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berbagai upaya kemudian dilakukan di berbagai belahan dunia untuk menekan angka perundungan. Termasuk salah satunya, mengurangi efek perundungan guna memutus mata rantai.

Memahami perundungan memiliki dampak buruk, melalui kegiatan FUN Research yang dilaksanakan oleh Universitas Pertamina (UP), siswa SMAN 63 Jakarta menggagas pembuatan aplikasi Spinther (Spin Therapy).

Spinther merupakan sebuah aplikasi untuk mengurangi trauma perundungan pada anak.

Baca juga: Mendikbud Nadiem: Ada 3 Dosa di Sekolah yang Tidak Boleh Ditoleransi

Spinther berisi sejumlah fitur yang terdiri dari permainan terapi, catatan harian untuk mengungkapkan perasaan atau emosi korban, informasi kontak konselor, kuis untuk mengetahui tingkatan trauma yang dialami korban.

Termasuk menyediakan informasi seputar perundungan seperti dampak dan gejalanya.

"Melalui aplikasi ini kami berharap korban perundungan bisa menghilangkan traumanya dan memulai self-healing,” papar ketua tim Syifa Nur Sabila, dalam keterangan tertulis UP yang diterima Kompas.com, Jumat (19/3/2021).

Juara pertama FUN Research

Atas kepedulian besar terhadap perundungan yang masuk dalam "3 Dosa Besar" di dunia pendidikan seperti yang diungkap Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, aplikasi besutan tim SMAN 63 Jakarta ini meraih juara pertama dalam ajang penelitian FUN Research yang digagas Universitas Pertamina.

Baca juga: Ruang Aksara Pengetahuan, Sekolah Gratis untuk Anak Kurang Mampu

Kegiatan ini bertujuan memupuk dan menanamkan budaya creative problem solving sejak dini. Kompetisi ini terbuka bagi seluruh siswa/siswi SMA/sederajat di Jabodetabek. Selain mendapatkan pembinaan selama pelaksanaan proyek, pemenang dari kompetisi akan memperoleh pendanaan sampai dengan 15 juta rupiah untuk mengembangkan dan mengaplikasikan purwarupa penelitian mereka.

FUN Research sendiri bertujuan memupuk dan menanamkan budaya creative problem solving sejak dini dan kompetisi ini terbuka bagi seluruh siswa/siswi SMA/sederajat di Jabodetabek.

Selain mendapatkan pembinaan selama pelaksanaan proyek, pemenang dari kompetisi akan memperoleh pendanaan sampai dengan Rp 15 juta untuk mengembangkan dan mengaplikasikan purwarupa penelitian.

Wakil Rektor Bidang Penelitian Pengembangan dan Kerjasama Universitas Pertamina Budi W. Soetjipto mengungkap, kegiatan ini dilaksanakan untuk membangun budaya inovasi sejak dini.

Baca juga: Agar Anak Kompeten, Najelaa: Beri Anak Umpan Balik, Bukan Nilai

"Di Universitas Pertamina, setiap mahasiswa wajib menyelesaikan mata kuliah Critical Thinking dan Creative Problem Solving sebagai upaya membentuk budaya inovasi. Ini yang ingin kita tularkan ke level lebih dini, di kalangan siswa SMA melalui FUN Research," jelasnya.

Selain SMAN 63 Jakarta, pemenang FUN Research lainnya ialah tim dari SMAN 8 Jakarta yang meraih juara ke-2 dengan judul penelitian “Online Platform Sharing Asset Pendukung Pembelajaran Jarak Jauh”.

Dilanjutkan tim dari SMAN 4 Kota Tangerang Selatan dengan judul penelitian “Wirausaha Keliga Sebagai Usaha Kreatif Era Pandemi”.

Inovasi lahirkan sederet prestasi

Terus mendukung siswa dan mahasiswa untuk terus berinovasi, Universitas Pertamina belum lama ini juga "melahirkan" mahasiswa yang berhasil menyabet beragam penghargaan di ajang Oil and Gas Intellectual Parade (OGIP).

OGIP merupakan event tahunan berskala internasional yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Teknik Perminyakan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

Tim dari Universitas Pertamina meraih juara 1 dan juara 2 dalam kategori Plan Of Development Competition dan Juara 1 dan 2 dalam kategori Geothermal Study Case.

Baca juga: Masih Dibuka, Seleksi Jalur Rapor Universitas Pertamina

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.