Revolusi Sunyi Dewi Sartika, Renungan Hari Perempuan Internasional

Kompas.com - 08/03/2021, 21:21 WIB
Raden Dewi Sartika kemdikbud.go.idRaden Dewi Sartika

Literasi akan mengangkat wanita menjadi manusia utama sesuai dengan nama sekolahnya, Sekolah Keutamaan Wanita.

Seorang wanita bisa menggapai keutamaan bila mampu mengintegrasikan antara pengetahuan dan keterampilan tanpa melupakan kodratnya sebagai wanita (istri dari suaminya dan ibu bagi anak-anaknya).

Tidak seperti woman liberation yang bercita-cita ingin menyaingi bahkan ingin mengalahkan kaum laki-laki. Wanita harus berkualitas karena dia yang akan menjadi sekolah atau madrasah yang paling utama bagi anak-anakanya kelak.

Wanita juga harus mandiri supaya tidak tergantung kepada siapa pun termasuk pada suaminya karena ketergantungan adalah salah satu bentuk ketidakmerdekaan. Wanita adalah tiang negara.

Kuat atau lemanya bangunan sebuah negara sangat ditentukan oleh kualitas wanitnya baik kualitas intelektual, spriritual, dan emosionalnya.

Bumi Pasundan tidak dapat lagi melahirkan wanita seperti Dewi Sartika, akan tetapi semangatnya harus tetap hidup di masa sekarang.

Dewi Sartika dan Cita-cita Keutamaan Wanita

 

Hari ini mungkin sudah tidak ada lagi wanita yang tidak bisa membaca menulis dan berhitung. Sudah tidak ada lagi wanita dibelenggu oleh tradisi yang mengekang langkahnya untuk maju. Akan tetapi bukan berarti sudah tidak ada lagi belenggu yang mengikat mereka.

Hari ini semua wanita sudah bisa membaca akan tetapi banyak tidak bisa memaknai apa yang dibaca dan juga susah membaca yang bermakna.

Hari ini kaum wanita tidak dibelenggu oleh tradisi kolot yang mengharamkan partisipasi dan emansipasi, akan tetapi justru banyak kaum wanita yang terbelenggu oleh kebebasannya sendiri.

Mereka terpenjara misalnya oleh pekerjaan yang dicita-citakannya sehingga kehilangan keutamaannya sebagai wanita. Tidak lagi berperan sebaga istri untuk mendampingi suaminya dan tidak berperan sebagai sekolah/madrasah bagi anak-anaknya.

Spirit literasi Dewi Sartika harus dihidupkan kembali untuk mempersenjatai kaum wanita dalam melawan kejamnya neokolinialisme dan neoimperalisme dalam bidang ekonomoni politik, sosial, dan budaya.

Dimana banyak menjadikan kaum wanita tidak hanya sebagai budak-budak industri produksi barang-barang akan tetapi juga sebagai komoditas utama dalam bidang indusri hiburan.

Kemandirian dan keberanian untuk hidup mandiri tanpa lepas dari kodrat adalah buah dari api literasi yang harus dinyalakan setiap hari di kalangan kaum wanita.

 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X