Mendikbud Nadiem: 3 “Dosa” di Sekolah Pengaruhi Perkembangan Siswi

Kompas.com - 08/03/2021, 15:52 WIB
Mendikbud saat membuka launching UKBI adaptif merdeka DOK.capture zoom kemendikbudMendikbud saat membuka launching UKBI adaptif merdeka

KOMPAS.com - Memperingati Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2021, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim kembali menyebut tentang tiga dosa besar dalam pendidikan di Indonesia, yakni intoleransi, perundungan (bully) dan pelecehan seksual.

Tiga dosa besar tersebut, menurut Nadiem sangat memengaruhi perkembangan siswa, khususnya pelajar perempuan atau para siswi.

"Ketiga hal tersebut sudah semestinya tidak lagi terjadi di semua jenjang pendidikan dan dialami oleh peserta didik kita, khususnya perempuan. Siswa perempuan secara umum lebih rentan mengalami tindak kekerasan," papar Nadiem seperti dikutip dari Antaranews.com, Senin (8/3/2021).

Baca juga: Siswa Belum Terdaftar KJP Plus? Lakukan Langkah Ini

Ia menegaskan, ketiga dosa besar tersebut juga sangat memengaruhi penentuan keputusan-keputusan yang diambil oleh siswa dalam menggapai cita-citanya.

Melalui Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan di Lingkungan satuan pendidikan untuk tingkat sekolah dasar dan menengah, Nadiem mengatakan langkah itu menjadi upaya Kemendikbud untuk mendorong terciptanya lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik.

Ia juga menyebut, kini Kemendikbud juga tengah mendiskusikan rancangan Permendikbud pencegahan dan penanggulangan kekerasan seksual di perguruan tinggi.

"Mekanisme terbaik untuk menerima dan menindaklanjuti laporan tiga dosa besar pendidikan di PAUD, sekolah dasar dan menengah, yang datang dari siswa, guru atau masyarakat dan mekanisme terbaik untuk mendorong sekolah dan perguruan tinggi guna membentuk satuan kerja pencegahan kekerasan," tutur Nadiem.

Baca juga: Cara Cek Siswa Penerima Kartu Indonesia Pintar untuk SD-SMA

Agar berjalan sesuai harapan, Nadiem mengatakan peraturan tersebut dirancang dengan penuh kehati-hatian dan pertimbangan.

“Tapi satu hal yang perlu diingat, kami hanya akan menjadi satu ombak kecil di tengah upaya menciptakan lingkungan yang mendukung bagi perempuan. Hanya dengan kesadaran dan kemauan semua lapisan masyarakat, untuk bersama-sama menebus dosa, kita bisa sama-sama memantik gelombang perjuangan,” paparnya.

Ia menegaskan, lingkungan belajar yang kondusif dan mendukung bagi perempuan, mulai dari rumah, sekolah, perguruan tinggi, sampai tempat kerja akan mendorong kemunculan lebih banyak perempuan pemimpin di masa depan dengan kecerdasan dan karakter unggul.

“Momentum hari perempuan internasional ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa perjuangan menuju kesetaraan gender masih panjang dan membutuhkan gotong-royong semua golongan untuk mewujudkannya. Mari terus pertahankan semangat Hari Perempuan, yang telah hidup selama lebih dari satu abad untuk Indonesia setara bersama.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X