Kompas.com - 04/03/2021, 22:02 WIB
Ilustrasi Buzzer. ShutterstockIlustrasi Buzzer.
Penulis Dian Ihsan
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Keberadaan buzzer tidak bisa dihentikan selama teknologi masih memungkinkan. Apalagi, media sosial dan teknologi informasi semakin canggih.

"Media baru kan semakin mudah, jadi akan sulit menghentikan karena akan terus ada itu," ucap Dosen Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, Wisnu Martha Adiputra melansir laman UGM, Kamis (4/3/2021).

Baca juga: Mendikbud Minta Sekolah Aktif Data Siswa agar Rasakan Kuota Gratis

Wisnu tidak sependapat jika dikatakan buzzer sebagai sumber kekacauan selama ini.

Menurut dia, problem utamanya adalah terletak pada pemahaman soal literasi digital.

Saat ini, kata dia, adalah era media sosial. Sehingga bagi negara-negara yang mengusung demokrasi pasti terkena imbasnya.

Mirip buah simalakama ketika warga dibebaskan beropini, hal ini tentu berbeda dengan negara-negara otoriter, seperti Myanmar, Tiongkok dan lain-lain.

"Problemnya orang masih belum bisa membedakan mana disebut pendapat, mana disebut hoaks, ujaran kebencian dan menyerang," ungkap dia.

Buzzer merupakan buah dari keterbukaan dan banyak yang bilang sumber kekisruhan.

"Padahal buzzer ini terdiri dua pihak lho, pihak pro pemerintah dan kontra," sebut dia.

Sayangnya, kata Wisnu, buzzer kadang hanya dilihat dari sisi pemerintah.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X