Kompas.com - 25/02/2021, 12:41 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim saat di acara vaksinasi guru dan tenaga kependidikan di SMAN 70, Jakarta. DOK. KemendikbudMendikbud Nadiem Makarim saat di acara vaksinasi guru dan tenaga kependidikan di SMAN 70, Jakarta.
Penulis Dian Ihsan
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Pelaksanaan vaksin Covid-19 untuk guru dan tenaga kependidikan telah berjalan. Rencananya 5 juta guru yang divaksin akan selesai di akhir Juni 2021.

Setelah vaksin selesai di Juni, maka belajar tatap muka akan dibuka kembali di sekolah pada Juli tahun ini.

Baca juga: Vaksin Guru Selesai, Mendikbud: Belajar Tatap Muka Sekolah Dibuka Juli

Rencana vaksin guru itu mendapat respon dari Epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Laura Navika Yamani.

Menurut dia, meski guru dan tenaga kependidikan telah memperoleh vaksin, tapi siswa harus menjadi prioritas utama di sekolah saat belajar tatap muka dibuka.

Karena, siswa sangat rentan menjadi carrier Covid-19. Itu yang harus diantisipasi oleh pihak sekolah.

"Jadi protokol kesehatan harus dijalankan, menjaga jarak, menggunakan masker paling utama, dan ada fasilitas sanitasi di sekolah," ungkap dia kepada Kompas.com, Kamis (25/2/2021).

Pemberian vaksin untuk guru dan tenaga kependidikan, bilang dia, paling tidak bisa mengurangi risiko penularan Covid-19 di sekolah.

"Meski tidak 100 persen angka penurunannya, tapi sudah bisa mengurangi dengan adanya vaksin guru," tegas dia.

Belajar tak bisa selamanya di rumah

Dia menegaskan, dengan adanya vaksin guru, maka siswa bisa bertemu kembali temannya di sekolah.

"Karena belajar itu tidak bisa selamanya di rumah, mereka (siswa) harus bertemu guru dan teman-temannya di sekolah. Jadi adaptasi kebiasaan baru ini akan berlangsung," tutur dia.

Baca juga: Mendikbud Bidik Vaksin 5 Juta Guru Selesai di Akhir Juni

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Velma Herwanto memiliki pandangan yang sama dengan Laura.

Dia mengaku siswa harus menjadi fokus utama di sekolah ketika belajar tatap muka dibuka kembali pada Juli 2021, sesuai dengan target Mendikbud Nadiem Makarim.

Sebab, siswa TK, SD maupun SMP memiliki gejala yang lebih ringan ketika mengidap Covid-19, dibanding orangtua.

"Jadi takutnya siswa tidak ada gejala, padahal sedang Covid-19, nah takutnya ini bisa menularkan ke temannya. Yang akhirnya temannya itu menularkan ke orangtua. Itu yang ditakutkan," jelas dia.

Maka dari itu, dia berharap, jika belajar tatap muka di sekolah benar dibuka, maka pelaksanaannya harus dilakukan secara terbatas.

"Jangan sampai 100 persen pelaksanaannya, bisa jumlah harinya dikurangin atau jumlah kelas dikurangin," ucapnya.

Dia juga berharap proses vaksinasi bisa lebih dipercepat untuk masyarakat umum, seperti orangtua siswa.

Baca juga: Nadiem Makarim: Guru Honorer Juga Peroleh Vaksin 2 Kali

"Makin cepat vaksinasi untuk orangtua siswa, maka semakin cepat pula belajar tatap muka di sekolah benar-benar terjadi di semua daerah," tukas dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X