BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Jakarta Intercultural School

Pemenuhan Kebutuhan Akademik dan Sosial-emosional Jadi Fokus JIS dalam Pembelajaran Digital

Kompas.com - 17/02/2021, 08:03 WIB
Ilustrasi belajar online di rumah. DOK. SHUTTERSTOCKIlustrasi belajar online di rumah.
|

KOMPAS.com – Pandemi Covid-19 berdampak terhadap kegiatan belajar mengajar. Sekolah sebagai pusat pembelajaran tidak lagi berfungsi seperti sedia kala. Ruang-ruang kelas yang dulunya ramai oleh obrolan para siswa kini jadi hening dan tak bertuan.

Meskipun demikian, dunia pendidikan harus tetap berjalan. Di balik heningnya ruang-ruang kelas di sekolah, tenaga pendidik dan administrator bekerja keras mempersiapkan serta memberikan pelajaran secara virtual kepada para siswa.

Sebagai pionir di dunia pendidikan, Jakarta Intercultural School (JIS) menjadi salah satu sekolah pertama di Tanah Air yang melakukan pengajaran secara digital melalui program Home and Online Learning sejak Maret 2020.

Hingga saat ini, program tersebut telah mengalami beberapa penyesuaian agar bisa memenuhi kebutuhan akademik dan sosial-emosional siswa.

Kepala Sekolah Menengah Pertama JIS Noah Bohnen mengatakan, ada sejumlah tantangan yang dihadapi tenaga pendidik dalam pembelajaran online.

Baca juga: Hadapi Revolusi Industri 4.0, Dunia Pendidikan Harus Bagaimana?

“Tantangan terbesar yang kami hadapi sejak penerapan Home and Online Learning adalah komponen sosial bagi siswa sekolah menengah. (Meskipun secara virtual), kami ingin tetap menghubungkan siswa dengan satu sama lain,” ujar Bohnen dalam rilis tertulis yang diterima Kompas.com, Kamis (4/2/2021).

Untuk mengatasi masalah tersebut, Bohnen mengungkapkan bahwa pihaknya secara konsisten mencari cara untuk memberikan pengajaran secara kreatif.

“Misalnya, dengan mengadakan program Bali Stage, Volcano Challenges, dan penerapan kegiatan ekstrakurikuler lainnya secara virtual. Selanjutnya, kami ingin memberikan lebih banyak stimulus ini sambil menyempurnakan produk pembelajaran online kami,” jelasnya.

Baca juga: Bantu Ekonomi Seniman Saat Pandemi, Siswa JIS Buat Proyek Sosial

Selaras dengan pendapat Bohnen, salah satu Kepala Sekolah Dasar di JIS, Justine Smyth, juga mengatakan pentingnya menjaga interaksi sosial dengan siswa. Menurutnya, interaksi sosial menjadi lebih penting dari sebelumnya karena para siswa tidak bisa bertatap muka secara langsung.

“Kami memprioritaskan para siswa untuk mendapatkan kesempatan bersosialisasi di hari sekolah secara virtual. Melibatkan mereka di komunitas dan memberikan pengalaman yang menantang akan memungkinkan siswa beristirahat dari rutinitas pembelajaran,” kata Smyth.

JIS menerapkan metode synchronous learning yang membuat pembelajaran online layaknya sekolah sungguha DOK. JAKARTA INTERCULTURAL SCHOOL JIS menerapkan metode synchronous learning yang membuat pembelajaran online layaknya sekolah sungguha

Kebutuhan akademik

Pembelajaran pada era pandemi memang memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan pembelajaran tatap muka. Dalam hal ini, tenaga pendidik punya peran vital agar membuat siswa tetap mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan.

“Fokus kami adalah memastikan semua siswa memiliki akses pembelajaran yang ketat sesuai dengan standar tinggi sekolah kami. Kami sengaja merancang ekosistem pembelajaran online sedemikian rupa untuk memberikan kesempatan siswa, guru, dan orangtua selalu terhubung,” jelas Smyth.

Sistem tersebut, kata Smyth, berhasil meningkatkan keterampilan siswa, salah satunya membaca. Bahkan, peningkatan ini jauh melebihi target pertumbuhan yang diharapkan dalam satu tahun.

Baca juga: Survei: 9 dari 10 Siswa Setuju Aplikasi Belajar Online Bantu Persiapan Ujian

Bohnen mengatakan, JIS selama ini dikenal sebagai salah satu sekolah inklusif yang apik dalam merangkul siswa dari semua ras, agama, dan bangsa. Oleh karena itu, pihaknya akan terus mendukung peserta didik dari berbagai tingkat kemampuan dan pendekatan untuk belajar tanpa membedakan satu sama lain.

“Sejak penerapan pembelajaran online, kami belum melihat ada siswa yang tertinggal jauh. Meskipun begitu, kami tetap menyediakan konselor, layanan dukungan siswa, dan terpenting adalah guru yang peduli untuk mendukung pertumbuhan siswa,” ujar Bohnen.

Seorang guru sedang mengajar melalui program Home and Online Learning di JIS.DOK. JAKARTA INTERCULTURAL SCHOOL Seorang guru sedang mengajar melalui program Home and Online Learning di JIS.

Secara khusus, Bohnen juga membeberkan tiga hal yang membuat pembelajaran online di JIS berjalan sukses.

Pertama, penerapan metode synchronous learning yang membuat pembelajaran online layaknya sekolah “sungguhan”. Dengan metode ini, para siswa akan merasa tetap terhubung secara personal dengan guru dan mengurangi hambatan interaksi yang mungkin dirasakan siswa.

“Kedua, saya terkejut dengan keuletan dan kemampuan adaptasi siswa. Sebagian besar dari mereka bahkan telah melampaui target pembelajaran yang dicanangkan,” jelas Bohnen.

Ketiga, lanjutnya, adalah kecepatan, kecakapan, dan kreativitas JIS dalam mengadaptasi praktik pengajaran online. Alhasil, siswa tetap bersemangat, berpartisipasi, dan bersaing ketat meskipun belajar di ruang kelas digital.

Dukungan orangtua

Kesuksesan pembelajaran secara virtual juga tak bisa lepas dari kontribusi orangtua di rumah.

Salah satu Kepala Sekolah Dasar di JIS lainnya, Jill Bellamy, mengatakan bahwa salah satu cara efektif yang bisa orangtua lakukan untuk mendukung anaknya adalah menyiapkan ruang belajar yang nyaman.

“Tidak pernah ada kata terlalu dini bagi siswa untuk memikirkan cara belajar yang efektif serta kondisi lingkungan yang dapat memengaruhi cara mereka berpikir, merasa, dan berperilaku. Orangtua dapat mendorong pola pembelajaran reflektif ini di rumah dengan melibatkan anak dalam pengaturan ruang belajar mereka,” jelas Bellamy.

Menurut Bellamy, pembelajaran online merupakan salah satu cara terbaik bagi siswa untuk mengembangkan kemandirian.

“Guru telah menyiapkan jadwal kelas. Tugas orangtua selanjutnya adalah meminta anak untuk meninjau jadwal setiap hari dan menanyakan apakah mereka paham dengan pembelajaran dan tugas yang diberikan,” ujar Bellamy.

Dengan latihan dan dukungan yang tepat, lanjutnya, semua anak juga harus dapat mengakses tautan Zoom mereka sendiri.

“Saya selalu percaya bahwa strategi pembelajaran inquiry yang didorong secara konseptual adalah metodologi terbaik untuk mengembangkan keterampilan pada abad ke-21. Kami ingin mendorong siswa untuk mandiri dan menanamkan pentingnya penguasaan keterampilan transdisiplin sejak dini,” imbuh Bellamy.

Sependapat dengan Bellamy, Kepala Sekolah Menengah Atas JIS Clint Calzini juga berpandangan bahwa orangtua perlu berbicara kepada anaknya setiap hari untuk menanyakan perkembangan mereka dan mendengarkan keluh kesahnya.

“Selalu dukung kebutuhan mereka. Apabila keadaan tidak berjalan dengan baik, orangtua bisa meminta bantuan sekolah untuk layanan konseling,” ujar Calzini.

Untuk mengetahui lebih detail mengenai Home and Online Learning dan program lainnya yang diterapkan di JIS, Anda bisa mengikuti acara Virtual Open House pada Kamis (25/2/2020) untuk sekolah menengah atas (high school), Jumat (26/2/2021) untuk sekolah menengah pertama (middle school), dan Jumat (5/3/2021) untuk sekolah dasar (elementary school).

Kunjungi laman resmi JIS atau klik tautan ini untuk mendaftar.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar