Kompas.com - 12/02/2021, 20:00 WIB
Ilustrasi membaca buku shutterstockIlustrasi membaca buku

KOMPAS.com- Berdasarkan laporan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) Republik Indonesia, capaian indeks budaya membaca tahun 2019 adalah 53,84 (kategori sedang).

Angka tersebut diperoleh melalui survei kegemaran membaca yang dilaksanakan Perpusnas di 102 kabupaten dan kota pada 35 provinsi.

Hal ini, rupanya perlu dilakukan inovasi khusus agar budaya membaca di Indonesia semakin meningkat. Padahal  di Indonesia sendiri cukup dikenal memiliki penulis-penulis yang handal dan tak kalah dengan penulis luar negeri.

Meski Indonesia memiliki banyak penulis, sayangnya fakta dari data Perpusnas cukup menampar dunia literasi

Baca juga: Nilai PISA Siswa Indonesia Rendah, Nadiem Siapkan 5 Strategi Ini

Untuk itu, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menyatakan bahwa program literasi yang dimulai sejak tahun 2016 belum memberikan hasil yang maksimal.

Dari sisi capaian indeks membaca oleh Perpusnas RI, program terkait literasi yang tersebar di beberapa kementerian, lembaga perlu ada mekanisme anggaran yang pas untuk program literasi.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Permasalahan literasi yang kami himpun berdasarkan kunjungan kerja Komisi X DPR RI, antara lain masih sulitnya membangun budaya baca di masyarakat, karena budaya tutur masih lebih dominan dibanding budaya baca dan kebiasaan baca sejak dini,” ucap Fikri dilansir dari laman dpr.go.id.

Ia mengatakan, pembudayaan membaca menjadi fokus kegiatan bagi pemerintah daerah dengan cara mengajak masyarakat khususnya anak-anak usia dini untuk mengunjungi perpustakaan.

 Baca juga: Asesmen Nasional 2021, Apa Itu Literasi Membaca dan Literasi Matematika?

“Dalam hal ini, fasilitasi armada antar jemput yang dibutuhkan oleh pemerintah daerah untuk layanan antar jemput belum maksimal karena keterbatasan APBD,” ungkapnya.

Fikri menegaskan, Komisi X DPR berkomitmen akan terus mengawal peningkatan literasi untuk semua daerah di Indonesia. Tentu, dengan dukungan dari kementerian/lembaga terkait.

Politisi Fraksi PKS itu menyampaikan, dalam kesimpulan Rapat Dengar Pendapat Komisi X DPR tanggal 25 November 2020 jika Komisi X dan Perpusnas bisa mengakselerasi program dan peningkatan literasi Indonesia. Utamanya dalam hal infrastruktur perpustakaan baik fisik maupun IT, ketersediaan buku di daerah 3T, peningkatan tata kelola perpustakaan sekolah, pemenuhan tenaga pustakawan perpustakaan desa.

“Komisi X mendorong kementerian/lembaga terkait sesuai tugas, fungsi dan kewenangannya berkolaborasi dan meningkatkan bersama terhadap perencanaan dan pelaksanaan program terkait program terkait program budaya baca dan peningkatan literasi nasional. Komisi X juga mendorong kementerian/lembaga terkait sesuai tugas, fungsi dan kewenangannya melakukan sinergi program literasi menjadi program terobosan untuk meningkatkan indeks literasi nasional secara signifikan dan berkesinambungan,” paparnya.

Baca juga: Mendikbud Nadiem: Ini Syarat Kelulusan Pengganti Ujian Nasional 2021

Fikri mengatakan, literasi secara umum dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis. Namun makna literasi kemudian mengalami perluasan seiring perkembangan pengetahuan dan teknologi. Literasi, kini menjadi keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan yang ada dalam bentuk cetak, virtual, digital, maupun auditori.

Usaha memajukan literasi di Indonesia, sudah dilakukan melalui gerakan ada tahun 2016 sebagai bagian dari implementasi dari Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Pada tahun 2017 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa ditunjuk sebagai koordinator Program Gerakan Literasi Nasional. Dengan program ini, bisa memperkuat sinergi antar unit utama pelaku Gerakan Literasi Nasional.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X