Kompas.com - 12/02/2021, 16:05 WIB
Ilustrasi PJJ DOK. QUIPPERIlustrasi PJJ
|

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 belum juga usai. Pelajar dan mahasiswa masih harus mengikuti kebijakan dari pemerintah untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah daring.

Meski sudah didukung dengan berbagai teknologi selama menjalani PJJ, masih ada celah yang menyebabkan pembelajaran di rumah ini menjadi kurang efektif.

Salah satu hal yang dikhawatirkan jika pembelajaran di rumah ini berlangsung dalam waktu cukup lama dapat mengakibatkan adanya learning loss atau berkurangnya pengetahuan dan keterampilan secara akademis.

Menurut Pengamat Pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Budi Santoso Wignyosukarto, ada perbedaan signifikan ketika pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan sekarang harus dilakukan secara daring.

Perbedaan pembelajaran tatap muka dan daring

Prof. Budi menerangkan, proses pembelajaran yang lama mempunyai waktu komunikasi intens dengan mahasiswa. Selain itu juga ada waktu bagi mahasiswa melakukan kegiatan praktikum untuk memahami kenyataan suatu teori.

Namun dengan adanya sekolah daring, semuanya dilakukan dengan media video dan komunikasi virtual.

"Kalau ketemu mahasiswa yang haus ilmu, akan dihasilkan produk yang relatif sama. Tapi kalau ketemu dengan mahasiswa yang hanya menginginkan ijazah, hasilnya jelas berbeda," kata Prof Budi kepada Kompas.com, Jumat (12/2/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Belajar Teknologi, Mahasiswa UKDW Lolos Program Bangkit 2021

Prof. Budi mengungkapkan, selama pandemi ini, pengajar tidak dapat melihat dari nilai ujian yang diperoleh mahasiswa saja. Selama PJJ ini hampir jarang ditemukan mahasiswa dengan nilai C.

Metode pemberian ujian dengan cara sebelum ada pandemi tidak dapat serta merta diterapkan pada saat ini. Pasalnya mahasiswa bisa mengupload jawaban ujian yang sama dengan temannya yang pandai. Walaupun pengajar sudah membatasi waktu ujian daring.

"Jadi harus ada cara pembelajaran yang sesuai dengan pola pembelajaran daring ini. Kalau di Luar Negeri jumlah mahasiswa di kelas hanya 20-an. Mudah untuk membuat cara penilaian, karena dosen mempunyai waktu lebih banyak," papar mantan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (L2Dikti) Wilayah V ini.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.