Kompas.com - 12/02/2021, 10:20 WIB
Prof Nizam saat menjadi pembicara di talkshow Kampus Merdeka Menyongsong Society 5.0 dalam peringatan HPTT ke-75 yang digelar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) secara daring, Kamis (11/2/2021).
Dokumen Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Nizam saat menjadi pembicara di talkshow Kampus Merdeka Menyongsong Society 5.0 dalam peringatan HPTT ke-75 yang digelar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) secara daring, Kamis (11/2/2021).
|

 

KOMPAS.com - Di era revolusi industri 4.0, perguruan tinggi diharapkan bisa mencetak lulusan yang memiliki kompetensi. Sehingga setelah lulus, mahasiswa bisa langsung terserap di dunia industri.

Kompetensi ini menjadi sebuah hal terpenting di dunia kerja. Karena tak menutup kemungkinan, semakin canggih teknologi, tenaga manusia pun bisa digantikan oleh robot atau otomasi.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikti Kemendikbud), Prof. Nizam menerangkan, dunia pendidikan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang cukup kompleks dengan kondisi dunia yang berubah cepat dan non linear serta penuh ketidakpastian.

Baca juga: Tim Dosen UAJY Buat Ikon Mba Dewi untuk Desa Wisata Tinalah

Menghadapi situasi seperti ini, Prof. Nizam meminta perguruan tinggi untuk merombak cara pendidikan saat ini dari pola pendidikan industri 3.0 dengan kompetensi yang sangat baku ke industri baru yang tengah berkembang cepat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mahasiswa harus punya kompetensi

"Kompetensi lama tidak lagi dibutuhkan karena pekerjaannya banyak yang hilang," tuturnya dalam Talkshow Kampus Merdeka Menyongsong Society 5.0 dalam peringatan HPTT ke-75 yang digelar Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) secara daring, Kamis (11/2/2021).

Baca juga: Belajar Teknologi, Mahasiswa UKDW Lolos Program Bangkit 2021

Nizam mengungkapkan, prediksi McKinsey menyatakan sekitar 23 juta pekerjaan diperkirakan akan diambil alih oleh robot atau otomasi pada tahun 2030 mendatang.

Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah lulusan yang dihasilkan perguruan tinggi di Indonesia dalam 10 tahun.

"Setiap tahunnya hanya meluluskan 1,7 hingga 1,8 juta mahasiswa dan ini jadi tantangan besar bagi perguruan tinggi di Indonesia untuk menyiapkan kompetensi untuk suatu pekerjaan yang belum ada saat ini," urai Prof Nizam.

Prof. Nizam juga menekankan, perguruan tinggi harus benar-benar mempersiapkan kompetensi mahasiswanya untuk menjadi pembelajar sejati sepanjang hayat.

Pasalnya dunia cepat berubah sehingga tidak ada pilihan untuk selalu belajar, beradaptasi, serta berinovasi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.