Trik "5M" dan "MSS", Bantu Dosen Tingkatkan Kemampuan Menulis

Kompas.com - 10/02/2021, 10:52 WIB
Para dosen dan tenaga kependidikan se-Karisidenan Banyumas saat mengikuti acara diskusi tentang mengembangkan budaya menulis. Dokumen SevimaPara dosen dan tenaga kependidikan se-Karisidenan Banyumas saat mengikuti acara diskusi tentang mengembangkan budaya menulis.


KOMPAS.com - Budaya menulis harus senantiasa dilakukan para pengajar di perguruan tinggi. Meski dalam kondisi pandemi, para dosen tetap bisa mengembangkan kemampuan menulisnya dengan berbagai cara.

Bagi para dosen, menulis dan membuat penelitian sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas mereka. Untuk melatih kemampuan menulis, ratusan dosen di Karisidenan Banyumas mengadakan pertemuan virtual mengusung tema “Kunci Sukses Menulis di Era Milenial”.

Di dalam forum tersebut, para civitas saling berbagi seputar strategi menulis dan penerbitan buku. Dua pakar juga dihadirkan dalam pertemuan virtual ini yakni dosen dan penulis buku best motivation “90 Hari Menulis Buku” DR. N. Faqih Syarif H serta konsultan penerbit Deepublish Pika Ceria Dewi.

Baca juga: Beasiswa S2 Kominfo 2021 Dibuka, Ini Daftar Kampus dan Syarat

Acara yang diadakan Komunitas Sevima ini melibatkan 200 dosen dan tenaga kependidikan yang tersebar di seluruh Karisidenan Banyumas. Acara dilakukan secara virtual menggunakan Zoom.

Membahas strategi jitu menulis

Faqih Syarif H mengatakan, dosen dan menulis adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Terlebih lagi di masa sekarang. Buku yang diproduksi kalangan dunia pendidikan cukup diminati masyarakat umum. Banyak buku tulisan dosen yang berhasil tembus di toko buku sebagai best seller.

Baca juga: 3 Penyebab Anak Malas Belajar Menulis

Meski dalam pelaksanaan, para dosen pun cukup sulit mendapatkan inspirasi untuk menulis. Untuk itu, Faqih menyarankan para dosen bisa menempatkan menulis sebagai sebuah kebiasaan. Dengan terbiasa menulis, mereka bisa terus mengembangkan ide dan gagasan yang dimiliki.

“Kebiasaan menuliskan ide dan gagasan dalam tulisan sangat membantu para penulis untuk membuat karya mereka. Untuk itu, para penulis bisa membuat skema dan alur terhadap ide yang sudah mereka miliki tersebut,” ujar Faqih dalam siaran persnya kepada Kompas.com, Rabu (10/2/2021).

Untuk mendapatkan ide tersebut, para penulis bisa melakukan aktivitas 5M, yakni Membaca, Mendengar, Mengkhayal, Mengalami, dan Mengamati. Dengan mengaplikasikan 5 M, para penulis akan lebih mudah menuangkan ide-ide yang mereka miliki.

“Untuk mudah dan cepat dalam menulis, para penulis bisa menerapkan 5M. Selain itu, manfaatkan kebiasaan serta kegiatan kita sehari-hari, untuk mengambil inspirasi dalam menulis,” papar Faqih.

Baca juga: Cara Menulis Essay Beasiswa Kuliah bagi Calon Mahasiswa

Dengan menerapkan langkah itu, lanjut Faqih, tak mustahil buku bisa ditulis dalam 90 hari. Yang penting, cicil tulisan buku setidaknya selembar dalam sehari. Metode ini biasa disebut dengan teori MSS (Menulis Selembar dalam Sehari).

Penulis bisa menerapkan teori MSS untuk menulis buku. Jika menulis selembar sehari dalam media apapun, maka dalam kurun waktu 90 hari penulis bisa menampilkan tulisan sebanyak 180 halaman.

"Karena kertas buku biasanya berbeda ukuran dengan kertas kita pada umumnya. Inilah yang bisa dilakukan para penulis untuk mulai membuat tulisan-tulisan tersebut dalam bentuk buku,” ungkap Faqih.

Strategi jitu lolos ke penerbit 

Untuk merealisasikan ide dan hasil tulisan tersebut, pasti penulis juga memikirkan agar bisa lolos ke penerbit. Sebagai pakar Pika Ceria Dewi berbagi pengalamannya agar tulisan bisa lolos ke penerbit.

Baca juga: Kisah Guru Besar IPB Prof. Ronny Menulis di Kompasiana, Total 1.063 Artikel

Pika menambahkan, agar lolos di meja penerbit, para penulis harus benar-benar memperhatikan tulisannya dengan baik. Penulis bisa menggunakan metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi). Maka para penulis akan dengan mudah menyiapkan materi yang sudah disampaikan.

“Metode ATM sangat diperlukan oleh para penulis. Para penulis bisa mengamati sumber-sumber materi yang akan dimasukkan dalam tulisannya. Setelah itu, penulis bisa menulis kembali ide-ide dan materi yang sudah dibaca tersebut. Yang terpenting, penulis harus melakukan modifikasi terhadap ide dan materi tersebut,” tambah Pika.

Dalam kesempatan itu Pika juga menyampaikan agar penulisan tidak menyinggung unsur sara dan tidak melakukan plagiasi dari karya orang lain. Untuk halaman sendiri, para penulis bisa menulis dengan minimal 50 halaman.

Baca juga: Orangtua, Kenali Tahapan Menulis Anak Berikut Cara Menstimulasinya

“Jika ingin lolos di percetakan, para penulis diharapkan tidak menyinggung unsur sara. Selain itu, para penulis harus menyiapkan hasil tulisannya dengan minimal 50 halaman,” pungkasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X