Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 08/02/2021, 12:31 WIB
Dian Ihsan

Penulis

KOMPAS.com - Virus nipah merupakan virus yang kali pertama ditemukan di Malaysia pada 1999.

Bahkan virus nipah sempat menyebabkan wabah pada kalangan peternak babi di Malaysia pada tahun yang sama.

Baca juga: Alasan Sinetron Ikatan Cinta Booming Menurut Pakar Unair

Wabah virus nipah yang terjadi di Malaysia juga berdampak pada Singapura.

Penularan virus nipah disebabkan kontak langsung manusia dengan babi sakit atau jaringan yang terkontaminasi.

"Virus Nipah berpotensi menjadi pandemi kedua. Karena sifat virus dan penularannya mirip dengan Covid-19," ucap Dosen Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Unair Agung Dwi Wahyu Widodo, melansir laman Unair, Senin (8/2/2021).

Dia menyebutkan, gejala yang ditimbulkan virus nipah menyerupai influenza, seperti badan meriang, demam, hingga otot-otot terasa nyeri.

World Health Organization (WHO) dalam situsnya menyebutkan bahwa tingkat kematian pada virus nipah diperkirakan mencapai 75 persen.

Dia mengaku, ada beberapa hal yang mengakibatkan tingkat kematiannya mencapai 75 persen.

Baca juga: Pakar Unair: Kenali Tingkat Parah Varises dan Cara Penyembuhannya

Pertama, penanganan yang kurang komprehensif.

Kedua, gejala yang tidak umum dan kejadian yang terjadi sangat cepat.

Ketiga, belum ditemukannya vaksin atau obat untuk virus nipah.

"Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk virus nipah. Pengobatannya hanya penatalaksanaan suportif saja, agar penderita bisa bertahan hidup," ungkap dia.

Pencegahan bisa terlambat

Dia menegaskan, vaksin virus yang belum ditemukan, maka untuk melakukan pencegahannya bisa terlambat.

Lanjut dia menjelaskan, virus nipah berpotensi menjadi pandemi, karena sudah ada penularan dari manusia ke manusia.

Berdasarkan data WHO di 2001, kata dia, wabah virus nipah terjadi di di Siliguri, India.

Penularan virus nipah terjadi pada layanan kesehatan.

Sebanyak 75 persen kasus di antaranya terjadi pada staf rumah sakit serta pengunjung.

Baca juga: Proteksi Covid-19, Pakar UNS: Minum Vitamin Sesuai Dosis

"Pandemi bisa terjadi karena meski diakibatkan oleh kelelawar buah, tapi sudah terjadi penularan dari orang ke orang. Masa inkubasi kena virus nipah ini mirip Covid-19, yaitu sekitar 5-14 hari," pungkas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com