Kompas.com - 05/02/2021, 16:15 WIB
Anak-anak di barak pengungsian Watuadeg, Purwobinangun, Pakem, Sleman sedang bermain bersama relawan. Dokumentasi DP3AP2KBAnak-anak di barak pengungsian Watuadeg, Purwobinangun, Pakem, Sleman sedang bermain bersama relawan.
|

KOMPAS.com - Berada di barak pengungsian bukan berarti anak-anak dari Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman berhenti belajar. Mereka tetap mengikuti pembelajaran secara online dan mengerjakan semua tugas yang diberikan sekolah.

Warga Turgo yang berada 6 km dari puncak Merapi mulai mengungsi sejak akhir Januari lalu. Termasuk anak-anak usia sekolah dan kelompok rentan lainnya.

Selama di barak pengungsian Watuadeg, Purwobinangun, Pakem, Sleman, ada tim relawan yang akan mendampingi anak-anak mengikuti pembelajaran online.

Menurut Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sleman dr. Mafilindati Nuraini, M.Kes., sejak barak Watuadeg diaktifkan, pihaknya langsung menerjunkan tim relawan untuk mendampingi anak-anak berkegiatan selama di barak.

Baca juga: Dalam Webinar UGM, Kepala BPPTKG: Merapi Mendekati Erupsi

Ada relawan dampingi anak belajar online

"Setiap hari ada petugas yang mendampingi, satu hingga tiga orang melakukan kegiatan bersama anak-anak di pengungsian," urai Mafilindati kepada Kompas.com, Jumat (5/2/2021).

Dari laporan relawan yang bertugas, lanjut Mafilindati, anak-anak di pengungsian tetap merasa senang dan belum menemukan kesulitan meski harus melaksanakan pembelajaran online.

"Di barak pengungsian juga ada beberapa alat permainan agar anak-anak tidak bosan selama berada di barak," imbuh Mafilindati.

Selain mendampingi anak-anak saat belajar, relawan yang berada di barak juga melakukan kegiatan lain berupa psikoedukasi.

Melakukan kegiatan psikoedukasi

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan ketahanan psikis anak-anak, memperbaiki pemahaman dari sisi psikis terhadap permasalahan yang dihadapi. Hingga mencegah kasus kekerasan pada anak selama mereka berada di barak pengungsian.

Sementara itu Panewu Pakem Suyanto menerangkan, agar anak-anak di barak pengungsian Watuadeg tetap bisa belajar, Pemerintah Kabupaten Sleman sudah melengkapi fasilitas jaringan internet.

Baca juga: Mahasiswa Tinggal di Lereng Gunung Merapi, Status Siaga Pahami Info Ini

"Kegiatan anak-anak di barak pengungsian berjalan lancar. Selalu ada pendampingan dari tim Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sleman," kata Suyanto kepada Kompas.com.

Ada puluhan anak-anak di barak pengungsian

Data terakhir pengungsi di barak pengungsian Watuadeg Purwobinangun berjumlah 129 orang. Dengan rincian lansia berjumlah 29 orang, 2 ibu hamil, 1 ibu menyusui, 1 bayi, 7 balita, 27 anak-anak dan 62 orang dewasa. "Dengan total KK ada 70," terang Suyanto.

Kepala Pelaksana Harian Unitlak Purwobinangun Nurhadi menambahkan, dalam melakukan pembelajaran online, anak-anak didampingi para relawan pendamping belajar berasal dari wilayah Turgo. Selain pendampingan belajar, setiap sore hari diadakan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) 3.

Baca juga: MPLS Daring di Yogya, SMA Ini Kenalkan Mitigasi Bencana Gunung Merapi

"Untuk menjaga agar para pengungsi tidak terpapar Covid-19, setiap relawan yang datang harus menunjukkan surat kesehatan bebas Covid-19," ungkap Nurhadi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X