Kompas.com - 04/02/2021, 21:45 WIB
Tim dosen pengabdian masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UAJY menyerahkan branding yang sudah didaftarkan ke HAKI  kepada pengelola Desa Wisata Tinalah Kulonprogo, Yogyakarta. dokumen tim dosen pengabdian masyarakat UAJY.Tim dosen pengabdian masyarakat Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UAJY menyerahkan branding yang sudah didaftarkan ke HAKI kepada pengelola Desa Wisata Tinalah Kulonprogo, Yogyakarta.


KOMPAS.com - Keberadaan desa wisata bisa dioptimalkan khususnya di provinsi yang memiliki daya tarik tersendiri. Baik itu pemandangan alam, kesenian maupun kebudayaan.

Tetapi mengembangkan desa wisata tak cukup mengandalkan potensi yang ada. Tapi juga membutuhkan strategi agar menarik perhatian masyarakat.

Tim dosen program pendidikan Sosiologi dan Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) melihat peluang yang dimiliki Desa Wisata Tinalah, Kabupaten Kulonprogo.

Apalagi saat ini di Kulonprogo terdapat Yogyakarta International Airport (YIA) yang diharapkan bisa menjadi daya ungkit pengembangan sosial ekonomi di daerah sekitar bandara.

Potensi menarik wisatawan

Termasuk Desa Wisata Tinalah yang berada di sekitar YIA bisa menjadi destinasi wisata yang bisa menarik wisatawan dalam dan luar negeri.

Baca juga: Akademisi UGM: Libur Panjang, Pelaku Wisata Harus Edukasikan Ini

Tetapi, sayangnya, masyarakat pengelola destinasi wisata masih membutuhkan pengembangan kapasitas dan ekonomi kreatif.

Hal ini dapat dicapai melalui program pelatihan untuk pembuatan ikonisasi brand produk pendukung agar terjadi pengembangan bisnis di desa wisata.

Dalam program pengabdian masyarakat (abdimas), tim dosen membuat beberapa inovasi agar bisa mendorong penduduk untuk melakukan kreativitas dan inovasi dalam pengembangan desa wisatanya.

Bahkan bisa menjadi jalan untuk pengentasan kemiskinan penduduk desa.

Baca juga: Jelang Sumpah Pemuda, Disdik DKI Ajak Siswa Wisata Virtual ke Museum

Ikon 'Mbak Dewi'

Salah satu anggota tim pengabdian masyarakat UAJY Dr. Victoria Sundari Handoko, M.Si ahli di Bidang Sosiologi Pariwisata mengatakan, branding Desa Wisata Tinalah di-bundling menjadi dua hal yakni logo desa wisata dan munculnya ikon 'Mbak Dewi' yang merupakan simbol pengunjung Dewi Tinalah.

Bahkan ikon 'Mbak Dewi' ini juga sudah didaftarkan dalam hak kekayaan intelektual (HAKI).

“Kami mengharapkan dengan adanya HAKI atas merek desa wisata, kreativitas dapat
ditingkatkan sebab mereka sudah memiliki dasar dari aset desa yakni sebuah merek
bernama Dewi Tinalah,” ujar Dr. Victoria Sundari Handoko, M.Si dalam siaran persnya kepada Kompas.com.

Tim dosen lainnya, Dr. Desideria Cempaka Wijaya Murti, MA ahli di Bidang Komunikasi Pariwisata mengungkapkan, 'Mbak Dewi' menjadi ikon bagi desa supaya lebih atraktif.

Baca juga: Tingkatkan Destinasi Wisata, Polije Kembangkan Jeju Park

Ikon ini nantinya bisa dipakai untuk berbagai merek produk-produk desa dan pengembangan aplikasi teknologi Dewi Tinalah ke depan.

Bisa makin berkembang

Desa wisata Tinalah cukup menyadari pentingnya brand bagi desanya.

Meski sebelumnya belum memiliki ikon dan logo resmi serta merek terdaftar dan bersertifikat HAKI tetapi, pariwisata di Dewi Tinalah sudah cukup berkembang.

Baca juga: Pandemi, Faber-Castell Alihkan Hadiah Wisata Jadi Dana Pendidikan

Ini menunjukkan adanya potensi bagi Dewi Tinalah. Sehingga jika Dewi Tinalah membangun merek komersial, maka Dewi Tinalah akan semakin dikenal kekhasan dan potensinya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X