Kompas.com - 01/02/2021, 19:30 WIB
Menteri Sosial Tri Rismaharini berbincang dengan salah satu pemulung di Jakarta, Kamis (7/1/2021). Dokumentasi Humas Ditjen Rehabilitasi Kementerian SosialMenteri Sosial Tri Rismaharini berbincang dengan salah satu pemulung di Jakarta, Kamis (7/1/2021).
Penulis Dian Ihsan
|
Editor Dian Ihsan

"Sementara yang perlu bantuan, apalagi saat pandemi, adalah orang yang kehilangan pekerjaan atau cukup masuk kategori miskin menurut kriteria BPS," jelas dia.

 

Lanjut dia menjelaskan, ciri kemiskinan di Indonesia adalah banyak rumah tangga di atas garis kemiskinan nasional.

Sehingga meski tidak miskin, mereka rentan terhadap kemiskinan.

Selain itu, banyak orang yang mungkin tidak tergolong miskin dari segi pendapatan, tetapi menjadi miskin karena tidak dapat mengakses pelayanan dasar.

Pelayanan dasar yang dimaksud seperti ketersediaan air bersih dan perumahan yang layak huni.

"Penggunaan garis kemiskinan yang terlalu rendah dapat memunculkan angka kemiskinan yang keliru. Banyak orang akan terklasifikasi tidak miskin padahal sangat menderita," tegas dia.

Dia menegaskan, apabila mencermati fakta statistik, jumlah orang miskin hanya 25 juta orang.

Baca juga: Pakar IPB: 4 Penyebab Banjir Bandang Puncak Bogor

Padahal, lanjut dia, yang berhak mendapatkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) ada 10 juta rumah tangga atau setara dengan 40 juta orang.

Dalam menentukan jumlah orang miskin dengan kriteria pendapatan atau pengeluaran, sebenarnya sangat sulit.

Karena, banyak rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian tradisional atau informal dengan penghasilan yang tidak menentu.

Perlu indikator kemiskinan

Oleh sebab itu, dalam upaya mengentaskan orang dari kemiskinan perlu indikator kemiskinan, bukan hanya garis kemiskinan.

Indikator ini harus realistis dan mudah dipakai di lapangan.

"Indikator ini seperti status janda tanpa pekerjaan, pendidikan kepala rumah tangga rendah, kecilnya luas lantai rumah dan tiadanya fasilitas buang air besar," ucap Dosen di Departemen Gizi Masyarakat IPB ini.

Baca juga: Mahasiswa, IPB Berikan 7 Keringanan UKT dan Biaya Pendidikan

Sedangkan dari aspek gizi dan makanan, tambah dia, indikatornya adalah konsumsi daging yang rendah dan sebaliknya konsumsi ikan asin tinggi, serta adanya anak balita bergizi buruk dan stunting.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X