Kompas.com - 05/01/2021, 18:05 WIB
Ilustrasi siswa SD ShutterstockIlustrasi siswa SD

KOMPAS.com - Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) melakukan survei singkat terkait persepsi para guru atas rencana pembukaan sekolah pada Januari 2021.

Survei yang dilakukan pada 19-22 Desember 2020 tersebut melibatkan 6.513 responden guru dari sejumlah provinsi, yaitu provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Yogyakarta, Kalimantan Tengah, Bengkulu, Jambi, NTB, NTT, Papua dan Papua Barat.

Hasil survei menyebut, dari 6.513 responden guru yang mengikuti survei, sebanyak 49,36 persen guru menyatakan setuju sekolah tatap muka di buka Januari 2021.

Sementara itu, sebesar 45,27 persen guru tidak setuju sekolah tatap muka di buka Januari 2021 dan hanya 5,37 persen responden menyatakan ragu-ragu.

Baca juga: Ketua MPR: Pemda Jangan Paksakan Sekolah Tatap Muka

Survei yang dilakukan melalui aplikasi google form tersebut mendapati bahwa guru yang setuju tatap muka maupun menolak tatap muka di bulan Januari 2021 jumlahnya cukup imbang.

Kendala materi jadi alasan guru memilih tatap muka

Jumlah responden yang menyatakan setuju sebanyak 3.215 orang guru, adapun alasan yang dipilih responden yang setuju sekolah tatap muka dibuka Januari 2021, antara lain:

  • Jenuh mengajar Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebanyak 22 persen.
  • Materi sulit bahkan sangat sulit dan praktikum tidak bisa diberikan secara daring sebanyak 54 persen.
  • Sebagian siswa yang diajar tidak memiliki alat daring, sehingga tidak mengikuti PJJ sebanyak 9,3 persen.
  • Sinyal tidak stabil sehingga menjadi kendala PJJ sebanyak 5,8 persen.
  • Lainnya sebanyak 8,9 persen, menyebutkan bahwa wilayah responden mengajar merupakan wilayah kepulauan yang masuk zona hijau/kuning.

Baca juga: Survei FSGI: 45 Persen Guru Menolak Sekolah Tatap Muka Januari 2021

“Para guru merasakan bahwa peserta didiknya pasti mengalami kesulitan untuk mengerjakan materi pelajaran dengan tingkat kesulitan tinggi, karena materi seperti itu tidak optimal diberikan secara daring, tetapi harus melalui pembelajaran tatap muka, minimal seminggu sekali,” ujar Wakil Sekjen FSGI Mansur dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.

Sementara itu, jumlah responden yang menyatakan tidak setuju sebesar 2.948 orang. Adapun alasan responden yang menyatakan tidak setuju sekolah tatap muka di buka pada Januari 2021, yaitu:

  • Kasus Covid-19 masih tinggi sebesar 40,70 persen.
  • Khawatir tertular Covid-19 di sekolah sebesar 27,74 persen.
  • Sudah berusia di atas 50 tahun ditambah penyakit penyerta sebesar 10,44 persen.
  • Infrastruktur dan protokol kesehatan/SOP Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di sekolahnya belum memadai sebesar 14,31 persen.
  • Lainnya sebesar 6,8 persen karena belum ada sosialisasi protokol kesehatan dari pihak sekolah dan Tidak memiliki kendaraan pribadi, sehingga harus naik angkutan umum yang rentan tertular Covid-19.

Wakil Sekjen FSGI Heru Purnomo mengatakan, mayoritas responden memang menolak buka sekolah tatap muka karena masih tinggi kasus, pandemi belum dapat dikendalikan pemerintah, sehingga mereka sangat khawatir tertular Covid-19.

Baca juga: Sejauh Mana Sekolah Dasar Siap Tatap Muka? Ini Survei Kemendikbud

"Apalagi untuk guru-guru yang usianya sudah lebih dari 50 tahun dan disertai pula dengan penyakit penyerta seperti diabetes, jantung dan lain-lain,” papar Heru dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X