Kompas.com - 23/12/2020, 16:47 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim Dok. KemendikbudMendikbud Nadiem Makarim

KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) lewat Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi terus mengupayakan link and match antara pendidikan vokasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Oleh karena itu, kebijakan insentif perpajakan super tax deduction bagi DUDI menjadi pendorong dalam memajukan pendidikan vokasi.

Baca juga: Pendidikan Vokasi Diminta Libatkan DUDI Sejak Awal

Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan, kebijakan ini bertujuan untuk memperluas kesempatan pendidikan vokasi bekerjasama dengan lebih banyak industri untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi di Indonesia.

"Ini mendorong vokasi mendapat kesempatan lebih besar untuk mendapat mitra dalam pengembangan kurikulum, peningkatan kualitas dan kuantitas pembelajaran, serta kesempatan pemagangan," kata Nadiem melansir laman Kemendikbud, Rabu (23/12/2020).

Dia berharap, langkah ini dapat membuka kesempatan bagi pendidikan vokasi untuk melakukan transformasi lebih optimal dalam meningkatkan kualitas lulusan vokasi secara berkesinambungan.

"Harapannya, langkah ini mendorong DUDI yang selama ini belum cukup terlibat, untuk lebih terlibat dan berkontribusi kepada pendidikan vokasi," ujar Nadiem.

Nadiem menegaskan, tujuan link and match adalah menyelaraskan pendidikan vokasi dengan DUDI. Makanya, dia ingin memperbesar peran DUDI terhadap pembelajaran dengan melibatkan pengajar dari kalangan DUDI.

"Pusat kurikulum dan pengajaran juga harus fokus pada industri, dan peran industri juga harus meningkat sebagai pemilik konten dari sekolah-sekolah vokasi kita," tutur Mendikbud.

Baca juga: Dirjen Vokasi: Tidak 100 Persen SMK Jalankan Belajar Tatap Muka

Kemenkeu dorong link and match DUDI

Senada dengan Nadiem, Direktur Jenderal Pajak Kemenkeu, Suryo Utomo mengatakan, kebijakan insentif super tax deduction diterbitkan untuk mendorong DUDI mendukung link and match.

Dia menguraikan, Indonesia akan mendapat bonus demografi pada 2030. Kesempatan itu harus dimanfaatkan dengan menyiapkan calon pekerja untuk mengisi bonus demografi dengan baik.

"Kualitas anak-anak kita akan jadi kunci mengisi pasar tenaga kerja pada 2030. Kita harus meningkatkan kompetensi dan menjaga competitiveness anak-anak kita, maka harus ada keterkaitan dan kebersamaan antara pemerintah dan DUDI," ucap Suryo Utomo.

Merujuk pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 128 Tahun 2019, bilang Suryo, Kemenkeu telah membuat regulasi guna mendorong DUDI memanfaatkan super tax deduction dan mendukung persiapan tenaga kerja terampil dan kompeten sesuai kebutuhan DUDI.

Suryo menegaskan, super tax deduction memberi kesempatan pada beberapa sektor industri untuk mengambil manfaat. Insentifnya adalah sektor-sektor DUDI yang melaksanakan kegiatan vokasi, boleh membebankan biaya lebih dari 100 persen menjadi 200 persen.

Baca juga: 5 Keuntungan Kuliah di Perguruan Tinggi Vokasi, Yuk Simak!

"Sederhananya, kalau DUDI mengeluarkan biaya Rp 100 juta untuk kegiatan sehari-hari mereka, mereka membebankan Rp 100 juta sebagai pengurang sebelum mereka membayar pajak," terang Suryo.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X