Kompas.com - 04/12/2020, 12:05 WIB
Gredu galang donasi ponsel bagi siswa yang tidak mampu. DOK. GreduGredu galang donasi ponsel bagi siswa yang tidak mampu.
Penulis Dian Ihsan
|

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah memberikan wewenang kepada Pemerintah Daerah, Kantor Wilayah (Kanwil), dan Kementerian Agama untuk mengizinkan belajar tatap muka di seluruh Indonesia di awal Januari 2021.

Dengan kebijakan baru ini maka penentuan izin sekolah tatap muka bukan lagi ditentukan berdasarkan zona risiko Covid-19.

Baca juga: Orangtua Tak Izinkan Belajar Tatap Muka, Sekolah Harus Tetap Fasilitasi PJJ

Terkait rencana pembukaan belajar tatap muka sekolah di Januari 2021, Gredu yang merupakan bagian dari sistem ekosistem pendidikan di Indonesia sangat mendukung sepenuhnya kebijakan terbaru dari Kemendikbud. Meski demikian tetap mempertimbangkan para siswa yang tidak dapat hadir di sekolah karena berbagai kendala.

"Oleh karena itu kami sangat mendukung apabila pemerintah menetapkan Sistem Belajar Campuran (SBC) atau blended learning untuk membantu pembelajaran tetap berlangsung secara efisien dan efektif," ucap CEO Gredu Rizky Anies lewat siaran yang diterima media, Jumat (4/12/2020).

Sejumlah kendala, kata dia, akan dihadapi oleh sekolah yang membuka belajar tatap muka di awal tahun depan. Selain harus ketat dalam mengedepankan protokol kesehatan, sekolah perlu mengantongi izin dari kepala sekolah dan orangtua siswa melalui komite sekolah.

Adapun beberapa ketentuan lainnya, yakni:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

  • Sekolah hanya dapat diisi oleh maksimum 50 persen dari kapasitas dengan sistem rotasi atau shifting.
  • Orangtua memiliki hak untuk tidak mengizinkan anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah.

Baca juga: Nadiem Makarim: Kapasitas Murid Belajar Tatap Muka Harus 50 Persen

"Sementara itu, belum ada kepastian terkait status kehadiran bagi tenaga pendidik pada pembelajaran tatap muka," kata dia.

Gredu andalkan SBC

Untuk itulah, lanjut dia, Gredu lebih mengandalkan Sistem Belajar Campuran (SBC) sebagai jembatan awal agar jadwal belajar dapat dilaksanakan bergiliran seperti piket. Sistem ini juga memastikan siswa akan memperoleh kualitas pembelajaran yang setara secara daring (online) atau luring (offline).

"Dengan adanya SBC, Gredu berharap para guru tidak perlu harus mengajar dua kali atau kebingungan dalam menyeimbangkan kualitas pembelajaran ke siswa," jelas dia.

Dia menjelaskan, selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sejak April hingga Desember 2020, Gredu telah menambah kerja sama dengan lebih dari 300 sekolah di tanah air. Hal ini menunjukkan bahwa online platform yang mendukung terlaksananya PJJ memang dibutuhkan selama kondisi pandemi dan terbukti cukup efektif khususnya bagi masyarakat perkotaan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.