Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mendikbud Nadiem: Guru Daerah 3T Jalani Tantangan Luar Biasa

Kompas.com - 03/12/2020, 20:02 WIB
Dian Ihsan,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan, guru di daerah terdepan, tertinggal dan terluar (3T) memiliki tantangan yang luar biasa. Adapun tantangan itu mereka hadapi dengan baik.

Dia mengaku, agar guru di daerah 3T bisa memiliki kekuatan yang penuh dalam mengajar, maka bisa belajar dengan guru-guru di sekolah luar biasa (SLB).

Baca juga: Cerita Ayyub Menjadi Guru di Daerah 3T

"Guru-guru itu bisa belajar luar biasa dari guru-guru SLB, karena mereka mengerti konsep-konsep pedagogi lebih mendalam, karena begitu besar tantangan yang harus mereka hadapi," ucap Nadiem melansir laman GTK Kemendikbud, Kamis (3/12/2020).

Guru di daerah 3T, bilang Nadiem, juga merupakan guru penggerak. Mereka bisa memotivasi para siswanya, agar bisa belajar meski di tempat di daerah 3T.

"Jadi ciri guru penggerak itu guru yang tertantang oleh situasi yang lebih sulit dan bukannya putus asa, tapi termotivasi," jelas dia.

Pada saat melakukan kunjungan ke Palu dan Pulau Rote, dia memperoleh cerita-cerita yang luar biasa dari guru saat mengajar siswanya.

Baca juga: Mendikbud Nadiem: Pembenahan Kesenjangan Daerah 3T Akan Jadi Prioritas

Selain itu, kata Nadiem, ada guru-guru lainnya yang patut dicontoh oleh guru di Indonesia, yakni sosok guru Ayyub dan Hikmat yang merupakan guru penggerak.

Ayyub adalah seorang guru di daerah 3T, letaknya di tanah Papua. Sedangkan Hikmat, seorang guru SLB yang juga penyandang disabilitas. Praktik baik dari Hikmat dan Ayyub harus dicontoh oleh guru lain, sehingga bisa memperoleh guru inspirasi lainnya dari banyak daerah.

"Suatu kehormatan buat saya bisa bertemu dengan Pak Hikmat dan Pak Ayyub. Terima kasih sudah memotivasi saya dan guru-guru senegara ini. Kalian luar biasa," ujarnya.

Sekolah daerah 3T memiliki sarana yang baik

Ayyub mengaku, dirinya mempunyai peran besar dalam memberikan ilmu setiap harinya. Karena, mereka tak pantang menyerah saat menimba ilmu pendidikan di tempat yang kurang sarana maupun prasarana.

"Kami harap anak-anak di daerah 3T dapat memiliki sarana dan prasarana yang bagus seperti di daerah lainnya sehingga dapat menunjang mimpi mereka meraih cita-cita," ungkap Ayyub.

Ayyub merupakan alumni program Sarjana Mengajar di Daerah 3T (SM-3T) yang kini mengajar di SD YPK Pasi Aimando, Biak, Papua. Sekolah tersebut berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik.

Ayyub memiliki tekad yang besar untuk membangun pendidikan di Papua. Hal itu didasari rasa prihatin dirinya ketika melihat ketimpangan yang terjadi di sana. Mulai dari kekurangan jumlah guru, hingga sarana dan prasarana yang tidak memadai.

Kondisi fisik tak goyahkan semangat

Sementara bagi Hikmat, dia selalu menyatakan kepada siswanya agar terus semangat dalam mengejar mimpi. Sebelum di SLB Negeri Batang, pria dengan nama lengkap Muhammad Hikmat ini juga pernah menjadi guru musik di SLB A Negeri Citeureup, Kota Cimahi, Jawa Barat.

"Kondisi fisik seperti ini membuat mudah pekerjaan karena anak-anak akan semakin termotivasi, ada nilai tambah dari tampilan saya seperti ini," ucap Hikmat.

Hikmat mengaku pernah melakoni berbagai profesi sebelum menjadi guru, seperti menjadi tukang tensi keliling, tukang electune di wedding, supir rental, dan supir taksi online.

Baca juga: Kisah Hikmat Guru Difabel Semangati Siswa Kejar Mimpi

"Setelah saya rasakan lebih menikmati di dunia pendidikan, khususnya di pendidikan luar biasa. Hanya anak-anak berkebutuhan khusus yang tulus mengutarakan perasaan," tutur dia.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com