Mengatasi Masalah Jaringan Internet PJJ dengan "One Teacher, One Server"

Kompas.com - 11/11/2020, 16:35 WIB
Para siswa dan guru memakai masker dan face shield saat kegiatan belajar dan mengajar (KBM) di SMPN 4 Solo, Jawa Tengah, Rabu (4/11/2020). KOMPAS.com/LABIB ZAMANIPara siswa dan guru memakai masker dan face shield saat kegiatan belajar dan mengajar (KBM) di SMPN 4 Solo, Jawa Tengah, Rabu (4/11/2020).

KOMPAS.com – Melihat akses jaringan internet yang belum merata di Indonesia, sistem “One Teacher One Server” dapat menjadi alternatif solusi selama Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ).

Pada Juli 2020, Ketua Pusat Data dan Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Pusdatin Kemendikbud) Muhammad Hasan Chabibie mengatakan bahwa ada 42.159 sekolah yang belum mendapatkan akses internet.

Maka dari itu dalam rangkaian web seminar untuk memeringati Hari Guru Nasional 2020, Rachmad Effendi selaku salah satu guru di SMKN 2 Trenggalek mengenalkan sistem “One Teacher One Server” sebagai salah satu inovasi pembelajaran untuk pengajar.

Baca juga: Pendaftaran Guru Penggerak Diperpanjang, Guru Didorong Berpartisipasi

“Dibutuhkan sebuah inovasi pembelajaran yang memberikan ruang lebih kepada tenaga pendidik dalam mendesain, memenuhi proses asesmen atau penilaian terhadap siswa, baik dalam jaringan ( daring) atau online maupun luar jaringan (offline),” jelas Rachmad pada Rabu (11/11/2020) melalui aplikasi Zoom.

Pasalnya semasa pandemi, akses atas jaringan internet menjadi salah satu komponen penting untuk melaksanakan pembelajaran secara daring.

Rachmad menambahkan, tujuan dari pembuatan “One Teacher One Server” adalah mendukung penerapan pembelajaran digital di masa pandemi sebagai roh revolusi pembelajaran 4.0 meski dalam keadaan jaringan internet di sekolah atau kelas kurang bersahabat.

Selain itu dengan menerapkan sistem tersebut, siswa dapat lebih fokus saat kegiatan belajar mengajar yang membutuhkan penggunaan gawai dan merasa tidak bosan dengan pembelajaran monoton berbasis angka dan huruf saat penjabaran materi.

“Karena memang secara kemampuan otak kanan, di sini kita tidak bisa pungkiri bahwa ketika mereka menerima animasi, baik dalam bentuk video, audio, bahkan multimedia interaktif, mereka akan lebih konsen atau lebih fokus pada materi,” lanjut Rachmad.

Skema “One Teacher One Server”

Rachmad mengakui, skema untuk menerapkan “One Teacher One Server” termasuk mudah karena hanya membutuhkan laptop pengajar, WiFi router, dan gawai siswa.

“Skemanya di sini mudah saja. Jadi di sini kami membutuhkan alat yang namanya WiFi router, dihubungkan dengan laptop. Biasanya kalau WiFi router itu sebagai penerus sinyal WiFi, tapi di sini kita gunakan sebagai penerus sinyal yang bisa digunakan siswa untuk mengakses pembelajaran digital,” ungkap finalis dari penghargaan Guru dan Kepala Sekolah Dedikasi, Inovasi dan Inspirasi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X