Peneliti UGM: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Aman dari Risiko Anjlok

Kompas.com - 06/11/2020, 10:16 WIB
Ilustrasi: Kereta cepat Perancis TGV memiliki kecepatan maksimal 320 kilometer per jam. Le ParisienIlustrasi: Kereta cepat Perancis TGV memiliki kecepatan maksimal 320 kilometer per jam.

KOMPAS.com - Universitas Gadjah Mada ( UGM) meneliti kereta api cepat Jakarta-Bandung. Dari hasil penelitian, jika pengembangan kereta cepat tidak memperhatikan faktor keselamatan eksternal dan internal, maka akan membahayakan keselamatan bagi penumpang.

Sebagaimana diketahui kereta cepat dibangun konsorsium Indonesia dan China.

Baca juga: Sebelum Diproduksi Akhir Tahun, GeNose UGM Uji Diagnostik

Tim peneliti kereta cepat dari UGM, yakni Rahmi Fajriati, Prof Suryo Hapsoro Tri Utomo, Imam Muthohar, dan Latif Budi Suparma.

"Anjlokan termasuk faktor internal, faktor-faktor yang mempengaruhi anjlokan adalah geometri jalur rel kereta dan karakteristik dari kereta itu sendiri. Itu yang harus diperhatikan," kata Rahmi salah satu peneliti, seperti melansir laman UGM, Rabu (4/11/2020).

Rahmi menjelaskan, pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung akan menggunakan kereta jenis CR400AF Fuxing Train yang didatangkang langsung dari China.

Kereta ini, kata Rahmi, sudah disesuaikan dengan standar kereta berkecepatan tinggi dan juga sesuai karakteristik jalur relnya. Sehingga tingkat keamanannya sudah baik.

"China memiliki standar koefisien derailment 0,8, hasil riset ini memiliki nilai lebih kecil dari standar tersebut yang artinya kereta cepat tersebut aman dari risiko derailment (anjlok)," jelas dia.

Kereta dan jalur rel, lanjut dia, adalah komponen yang tidak dapat dipisahkan, maka tidak ada indikator yang paling besar memengaruhi, semuanya saling terkait dan mempengaruhi.

Dia menyebutkan, indikator tersebut meliputi geometri berupa jari-jari lengkung horizontal, superelevasi, lebar rel yang digunakan, sudut flens yang digunakan, dan koefisien gesek (jalur rel). Sedangkan pada kereta yaitu tinggi kereta dan beban ganda, serta jarak titik berat kereta.

Baca juga: 745.415 Guru dan Dosen Non-PNS Kemenag Peroleh Subsidi Gaji

Rahmi menambahkan, pengerjaan riset dan penelitian kereta cepat Jakarta-Bandung telah menghabiskan waktu kurang lebih 6 bulan, dibantu oleh pihak PT Wijaya Karya Tbk.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X