Kompas.com - 05/11/2020, 19:45 WIB
Peneliti Universitas Cenderawasih (Uncen), Hendra K. Maury menjadi pembicara dalam Kompas Talks dengan tema Eksplorasi New Guinea Highland Wild Dog di Area Tambang Grasberg. Webinar Kompas TalksPeneliti Universitas Cenderawasih (Uncen), Hendra K. Maury menjadi pembicara dalam Kompas Talks dengan tema Eksplorasi New Guinea Highland Wild Dog di Area Tambang Grasberg.

KOMPAS.com - Peneliti Universitas Cenderawasih (Uncen), Hendra K. Maury mengungkapkan, pihaknya saat tengah mengembangbiakan hewan New Guinea Singing Dog (NGSD) atau Anjing Bernyanyi Papua Nugini sebanyak 200-300 ekor.

Tujuannya, binatang khas Papua ini bisa dikonservasi atau dilindungi.

"Singing Dog (NGSD) yang sedang dikembangbiakkan untuk tujuan konservasi sebanyak 200-300 individu (ekor)," ucap Hendra dalam acara Kompas Talks dengan tema "Eksplorasi New Guinea Highland Wild Dog di Area Tambang Grasberg", Kamis (5/11/2020).

Baca juga: Uncen Sukses Teliti Fase Kedua New Guinea Singing Dog

Dia menyatakan, hewan NGSD pertama kali ditemukan dari Central Province, Papua New Guinea (PNG) pada ketinggian 2.100 meter atau setara dengan 7 ribu kaki, di tahun 1897.

Secara morfologi, kata dia, NGSD dengan Highland Wild Dogs (HWD) memiliki banyak kemiripan. HWD sendiri merupakan nama yang diberikan bagi anjing liar yang hidup di dataran tinggi Papua.

Upaya konservasi NGSD di lokasi penangkaran, kata dia, akan memperoleh keuntungan besar dengan dimasukkannya sejumlah spesimen yang paling mewakili anjing HWD asli. Sehingga dapat mengurangi risiko kerusakan genetika populasi NGSD.

Dia menuturkan, dari hasil penelitian bersama rekan pengajar di Uncen lainnya, bahwa HWD, NGSD, dan Dingo memiliki kesamaan morfologi yang kuat. Semua hewan itu merupakan garis keturunan anjing Oseanik.

"NGSD yang ditangkarkan berasal dari HWD, bukan dari populasi anjing Oseanik lainnya," tutur dia.

Penelitian berlanjut sampai fase ketiga

Rektor Uncen Apolo Safanpo telah mengatakan, bahwa dirinya dan peneliti lainnya yang merupakan Dosen Uncen telah berhasil meneliti New Guinea Singing Dog fase kedua dengan baik. Hewan ini merupakan salah satu mamalia top predator di dataran tinggi pegunungan Jayawijaya,

"Ini prestasi yang besar, karena beberapa tahun belakangan ini belum ada penelitian anjing liar yang jenis atau rasnya berbeda dengan anjing liar lainnya," kata Apolo.

Menurut dia, penelitian tentang New Guinea Singing Dog ini didukung penuh oleh Uncen mulai dari penyusunan proposal, proses izin, hingga pelaksanaan penelitian di lapangan. Demikian juga pada saat proses publikasi.

Penelitian ini, kata dia, masih akan tetap berlanjut pada fase ketiga yang sediannya dilaksanakan di Mei 2020. Tapi, karena pandemi Covid-19, penelitian fase ketiga akan terlaksana di Mei 2021.

Baca juga: Kulit Mangga Antar ITS Raih Medali Emas di Korea

Dia berharap penelitian ini tetap berlanjut, agar reputasi dan eksisteni Uncen makin baik dan lebih dikenal, melalui karya karya ilmiah secara nasional dan internasional. Sekaligus bisa meningkatkan dan menaikkan grade Uncen menjadi level yang lebih tinggi.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X